RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
Kategori
  • Akhbar Dauliyah (1,050)
  • Akhlak (135)
  • Al-Qur'an (80)
  • Aqidah (169)
  • Dakwah (35)
  • Fikrah (1)
  • Fikrul Islami (43)
  • Fiqih (193)
  • Fiqih Dakwah (76)
  • Gerakan Pembaharu (23)
  • Hadits (107)
  • Ibadah (13)
  • Kabar Umat (437)
  • Kaifa Ihtadaitu (6)
  • Keakhwatan (7)
  • Kisah Nabi (12)
  • Kisah Sahabat (4)
  • Masyarakat Muslim (14)
  • Materi Khutbah dan Ceramah (78)
  • Musthalah Hadits (3)
  • Rumah Tangga Muslim (12)
  • Sejarah Islam (199)
  • Senyum (2)
  • Taujihat (25)
  • Tazkiyah (45)
  • Tokoh Islam (20)
  • Ulumul Qur'an (7)
  • Uncategorized (5)
  • Wasathiyah (138)
0
2K
RISALAH
Subscribe
RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
  • Akhlak

Kekhawatiran Terhadap Riya (Pamer)

  • 28-02-2026
  • No comments
069591400 1732613731 quote menghindari sifat riya

Pertanyaan:

Saya memiliki masalah, yaitu saya selalu merasa bahwa sebagian besar amal saya adalah riya (pamer). Saya berharap dapat ikhlas dalam beramal dan melakukannya dengan sebaik-baiknya agar diterima dan diridai oleh Allah Ta’ala. Bagaimana pendapat Anda tentang perasaan ini?

Jawaban Samahah Syekh:

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan siapa pun yang mengikuti petunjuknya. Amma ba’du.

Perasaan ini adalah perasaan yang baik. Rasa khawatir seseorang bahwa amalnya mengandung riya atau tercampuri riya, seharusnya ini menjadi ciri khas seorang muslim. Seorang muslim hendaknya memeriksa lubuk hatinya yang paling dalam, apa tujuannya dari suatu amalan. Karena banyak hal yang dilakukan seseorang, ia mengira itu adalah ibadah kepada Allah, padahal sejatinya ia menginginkan syahwat (hawa nafsu) dirinya, atau ingin mengaktualisasikan egonya sendiri.

Seperti tiga orang yang disebutkan dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim dan lainnya:

إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ: رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ. قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ. قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ. قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ

“Sesungguhnya orang pertama yang diadili pada hari kiamat adalah: Seorang laki-laki yang mati syahid. Dia dihadapkan, lalu Allah mengingatkannya akan nikmat-nikmat yang telah Dia berikan, dan ia pun mengakuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang telah kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Aku berperang demi-Mu hingga aku mati syahid.’ Allah berfirman, ‘Kamu dusta. Sebenarnya kamu berperang agar dikatakan sebagai pemberani, dan itu sudah dikatakan (di dunia).’ Kemudian diperintahkan (kepada malaikat) untuk menyeretnya dengan wajahnya hingga dilemparkan ke neraka.

“Kedua, seorang laki-laki yang mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur’an. Dia dihadapkan, lalu Allah mengingatkannya akan nikmat-nikmat yang Dia berikan, dan ia pun mengakuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang telah kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Aku mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur’an demi-Mu.’ Allah berfirman, ‘Kamu dusta. Sebenarnya kamu mempelajari ilmu agar dikatakan sebagai ‘ālim (orang berilmu), dan kamu membaca Al-Qur’an agar dikatakan sebagai qāri’ (pembaca Al-Qur’an). Itu semua sudah dikatakan (di dunia).’ Kemudian diperintahkan (kepada malaikat) untuk menyeretnya dengan wajahnya hingga dilemparkan ke neraka.

“Ketiga, seorang laki-laki yang Allah lapangkan rezekinya dan berikan kepadanya berbagai macam harta kekayaan. Dia dihadapkan, lalu Allah mengingatkannya akan nikmat-nikmat yang Dia berikan, dan ia pun mengakuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang telah kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Tidak ada satu pun jalan (kebaikan) yang Engkau cintai untuk dinafkahi di dalamnya, melainkan aku telah menafkahkan harta di jalan itu karena-Mu.’ Allah berfirman, ‘Kamu dusta. Sebenarnya kamu melakukannya agar dikatakan sebagai dermawan, dan itu sudah dikatakan (di dunia).’ Kemudian diperintahkan (kepada malaikat) untuk menyeretnya dengan wajahnya, lalu dilemparkan ke neraka.” (H.R. Muslim) (1)

Mereka itu tidak melakukan sesuatu pun karena Allah, mereka melakukannya hanya untuk kepentingan duniawi mereka. Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ﴿١٥﴾ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan hapuslah apa yang mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang mereka kerjakan.” (QS. Hūd: 15-16)

Oleh karena itu, memurnikan niat dan mengikhlaskannya hanya untuk Allah adalah perkara yang sangat penting, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٦٢﴾ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya'” (QS. Al-An’ām: 162-163)

Memurnikan Niat Hanya untuk Allah

Seseorang wajib memurnikan niat, kehendak, dan amal perbuatannya; agar semuanya hanya untuk Allah Subḥānahu wa Ta’ālā semata, tiada sekutu bagi-Nya, tanpa tercampuri kesyirikan sedikit pun. Oleh karena itu, Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu berkata: Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di hadapan kami, beliau bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ، فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ. فَقَالَ لَهُ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ: وَكَيْفَ نَتَّقِيهِ وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: قُولُوا: اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُ

“Wahai sekalian manusia, takutlah kalian terhadap syirik ini, karena ia lebih samar daripada rayapan semut.” Lalu seseorang—yang Allah kehendaki—bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara kami menjauhinya, padahal ia lebih samar daripada rayapan semut?” Beliau bersabda: “Ucapkanlah: ‘Allāhumma innā na’ūdzu bika an nusyrika bika syai’an na’lamuhu wa nastaghfiruka limā lā na’lam’ (Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak kami ketahui).” (H.R. Ahmad dan selainnya) (2)

Riya adalah syirik tersembunyi. Ia lebih samar daripada rayapan semut di atas batu yang licin. Ia tidak terlihat, tidak terasa, dan tidak terdengar. Ia menyusup ke dalam jiwa seseorang tanpa disadarinya, lalu menggugurkan pahala amal. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا جَمَعَ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ يَوْمَ لَا رَيْبَ فِيهِ، يُنَادِي مُنَادٍ: مَنْ كَانَ أَشْرَكَ فِي عَمَلٍ عَمِلَهُ لِلَّهِ أَحَدًا، فَلْيَطْلُبْ ثَوَابَهُ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ اللَّهَ أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ

“Apabila Allah ‘Azza wa Jalla mengumpulkan seluruh makhluk dari generasi awal hingga akhir pada hari yang tidak diragukan lagi (kiamat), seorang penyeru akan menyeru: ‘Barangsiapa yang dalam suatu amal yang ia lakukan karena Allah, ia mempersekutukan (dengan niat kepada) seseorang, maka mintalah pahalanya dari selain Allah ‘Azza wa Jalla, karena Allah adalah Dzat Yang Maha Tidak Membutuhkan sekutu dari segala bentuk persekutuan.” (H.R. At-Tirmidzi, beliau berkata hadis hasan sahih) (3)

Dan beliau juga bersabda:

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Allah Tabāraka wa Ta’ālā berfirman: ‘Aku adalah Dzat Yang Paling Tidak Membutuhkan sekutu. Barangsiapa melakukan suatu amal yang di dalamnya ia menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan perbuatan syiriknya.” (H.R. Muslim) (4)

Maka, seseorang wajib memurnikan niatnya hanya untuk Allah. Sebagian ulama salaf sangat khawatir terhadap dirinya sendiri dari (jerat) syirik. Beliau berkata: “Beruntunglah orang yang memiliki satu langkah yang benar, yang dengan langkah itu ia hanya menginginkan wajah Allah.” Setiap kali seseorang semakin jernih hubungannya dengan Allah, semakin mengenali cacat-cacat jiwanya, dan mengetahui celah-celah masuknya setan ke dalam jiwa, maka ia akan semakin khawatir amal-amalnya kemasukan riya tanpa disadarinya.

Dikisahkan, sebagian ulama salaf pernah sakit. Beberapa sahabatnya menjenguknya, dan mereka mendapatinya menangis tersedu-sedu. Mereka bertanya, “Apa yang membuatmu menangis, wahai Fulan? Bukankah engkau telah melakukan banyak amal saleh?” Beliau menjawab:

مَا يُدْرِينِي أَنَّ شَيْئًا مِنْهُ قُبِلَ؟ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: {إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ}

“Apa yang membuatku tahu bahwa sedikit pun dari amal itu diterima? Allah Ta’ala berfirman, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.'” (QS. Al-Mā’idah: 27)

Penerimaan amal hanya diberikan kepada orang-orang yang bertakwa. Maka, kekhawatiran saudari penanya terhadap riya adalah kekhawatiran yang benar. Akan tetapi, jangan sampai kekhawatiran itu berubah menjadi penyakit. Seseorang hendaknya khawatir terhadap riya, namun di saat yang sama ia tetap memeriksa isi batinnya, berusaha membersihkannya dari riya, berupaya, dan berdoa kepada Allah agar dikaruniai keikhlasan serta dijauhkan dari riya.

Sedapat mungkin, untuk amalan-amalan yang bukan fardu (wajib), seseorang berusaha menyembunyikannya. Sebagaimana disebutkan dalam hadis tentang tujuh golongan yang dinaungi Allah:

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ

“… dan seorang yang bersedekah dengan suatu sedekah lalu ia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim) (5)

Adapun amalan-amalan fardu, maka ia menampakkannya. Ia melaksanakan salat wajib, berjamaah, dan dilihat orang lain. Ia membayar zakat, memberikannya kepada imam atau lembaga amil zakat. Orang lain perlu tahu bahwa ia berzakat, agar mereka tidak berprasangka buruk kepadanya dan tidak menuduhnya sebagai orang fasik yang tidak menunaikan kewajiban Allah. Juga agar orang lain dapat meneladaninya, dan tidak ada yang berkata, “Si Fulan ini tidak pernah kami lihat salat atau berzakat.” Tidak. Amalan fardu ditampakkan. Sedangkan amalan-amalan sunah (nāfilah), seseorang berusaha menyembunyikannya semampunya, kecuali jika ia berniat dengan menampakkannya untuk mengajarkan orang lain, agar mereka belajar dan meneladaninya, atau tujuan baik serupa.

Wallāhu a’lam.


Catatan Kaki (Referensi):

(1) Teks Sumber Hadis Pertama: Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitāb Al-Imārah (no. 1905), dan Ahmad (no. 8277), dari Abu Hurairah.

(2) Teks Sumber Hadis Kedua: Diriwayatkan oleh Ahmad (no. 19606). Para penyuntingnya (mukhrij) berkomentar: Sanadnya lemah karena ketidakjelasan (ke-majhul-an) perawi bernama Abu Ali Al-Kahili. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Kitāb At-Ta’awwudz min Asy-Syirki (no. 30162). Al-Haitsami berkata (10/223): Para perawi (dalam sanad) Ahmad adalah perawi-perawi Shahih, kecuali Abu Ali, namun Ibnu Hibban menilainya terpercaya (tsiqah). Hadis ini berasal dari Abu Musa Al-Asy’ari.

(3) Teks Sumber Hadis Ketiga: Diriwayatkan oleh Ahmad (no. 15838). Para penyuntingnya (mukhrij) berkomentar: Sanadnya ṣaḥīḥ lighairihi (karena ada penguat). Juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Kitāb Tafsīr Al-Qur’ān (no. 3154), dan Ibnu Majah dalam Kitāb Az-Zuhd (no. 4203), dari Abu Sa’id bin Abi Fadhalah Al-Anshari.

(4) Teks Sumber Hadis Keempat: Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitāb Az-Zuhd (no. 2985), dari Abu Hurairah.

(5) Teks Sumber Hadis Kelima: Hadis Muttafaq ‘alaih (Disepakati Imam Bukhari dan Muslim): Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitāb Al-Adzān (no. 660), dan Muslim dalam Kitāb Az-Zakāh (no. 1031), dari Abu Hurairah.

Sumber: Al-Qaradawi.net

Total
0
Shares
Share 0
Tweet 0
Share 0
Share 0
Topik berkaitan
  • Pamer
  • Riya
Anda Mungkin Juga Menyukai
Yy4
View Post
  • Akhlak

Perkataan Ibnu Rajab tentang Amal yang Tercampur (Riya’)

Istock
View Post
  • Akhlak
  • Fiqih

Perkataan Sia-sia Dalam Sumpah

4e60a
View Post
  • Akhlak
  • Aqidah

Ikhlas Diperlukan Untuk Kebaikan Hidup

Dome putra mosque malaysia sunset 181624
View Post
  • Akhlak
  • Al-Qur'an

Allah Azza wa Jalla Menggambarkan Rasul-Nya sebagai Pembawa Berita Gembira dan Pemberi Peringatan

View Post
  • Akhlak

Sikap Pilih-pilih dan Dua Wajah dalam Beragama

طريقة كتابة رسالة ادارية
View Post
  • Akhlak
  • Fiqih

Kecurangan dalam Ujian Sekolah atau Ujian Kerja

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk Anda Para Pembina Umat!
Iklan PPMT
Trending
  • Ap 6a094b67377b4 1
    • Akhbar Dauliyah
    Dua Syahid di Gaza, Tembakan Intensif di Khan Younis dan Lingkungan Al-Tuffah
    • 17.05.26
  • Umayah 2
    • Sejarah Islam
    Kabilah Bani Umayyah dalam Pandangan Rasulullah ﷺ
    • 17.05.26
  • 66 3
    • Fiqih
    Menggabungkan Ibadah Haji dengan Urusan Duniawi
    • 17.05.26
  • 88 4
    • Fiqih
    Apakah Harta Anak adalah Harta Orang Tua?
    • 17.05.26
  • 99 5
    • Kabar Umat
    Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1447 H Bertepatan dengan Rabu 27 Mei 2026
    • 17.05.26
  • Ftj3 6
    • Akhbar Dauliyah
    Termasuk Putra Presiden Abbas, Kenali Pemenang Keanggotaan Komite Sentral Fatah
    • 18.05.26

Forum Dakwah & Tarbiyah Islamiyah adalah Perkumpulan yang didirikan untuk menggalakan kegiatan dakwah dan pembinaan kepada masyarakat secara jelas, utuh, dan menyeluruh.

Forum ini berupaya menyampaikan dakwah dan tarbiyah Islamiyah kepada masyarakat melalui berbagai macam kegiatan dakwah.

Kegiatan dakwah FDTI dilandasi keyakinan bahwa peningkatan iman dan taqwa tidak mungkin dapat terwujud kecuali dengan melakukan aktivitas nasyrul hidayah (penyebaran petunjuk agama), nasyrul fikrah (penyebaran pemahaman agama), dan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan melarang kemungkaran).

Tag
Afghanistan Al-Aqsha Amerika Arab Saudi Arbain Nawawiyah AS covid-19 Dr. Yusuf Al-Qaradhawi Erdogan Gaza hadits arbain haji Hamas hizbullah Ikhwanul Muslimin india Irak Iran Israel Kemenag Lebanon Ma'rifatul Islam materi tarbiyah Mesir Muhammadiyah MUI Nahdlatul Ulama Pakistan Palestina Penjajah Israel Persis pks qawaidud da'wah Ramadhan Rusia Saudi Arabia Sudan Suriah Taliban Tunisia Turki ushulul Islam Wasathiyah Yaman Yusuf Al-Qaradhawi
Komentar Terbaru
  • Ghusni Darodjatun pada Ahdafut Tarbiyah
  • Susi pada Hadits 12: Meninggalkan yang Tidak Bermanfaat
  • Supriadi pada Al-Ihsan
  • Tata pada Urutan Khilafah Sepanjang Sejarah Islam
  • Halimah Ayu Lestari pada Ahammiyatus Syahadatain (Pentingnya Dua Kalimat Syahadat)
  • Zidnialkelisa pada Al-Mukhtashar fi Tafsir Al-Qur’anul Karim: QS. Al-Baqarah ayat 6 – 20

Input your search keywords and press Enter.