Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah kembali memuncak seiring sengitnya aksi saling balas serangan antara kelompok Houthi dari Yaman dan koalisi militer pimpinan Arab Saudi. Dinamika ini memicu kekhawatiran internasional, terutama terkait ancaman terhadap stabilitas ekonomi dunia dan keamanan wilayah.
Koalisi pimpinan Arab Saudi mengonfirmasi keberhasilan sistem pertahanan udara mereka dalam mencegat dan menghancurkan dua rudal balistik yang diluncurkan Houthi menuju kawasan timur Kerajaan, yakni sasaran di Dhahran dan Haradh. Juru bicara koalisi, Turki al-Maliki, menyampaikan bahwa tim darurat langsung dikerahkan ke lokasi setelah serpihan hasil pencegatan jatuh di pemukiman warga di Dhahran. Pihak Pertahanan Sipil Arab Saudi sempat menerbitkan peringatan bahaya bagi penduduk Wilayah Timur sebelum akhirnya mencabut imbauan tersebut setelah situasi terkendali.
Aksi saling gempur ini kian gencar setelah koalisi melancarkan rentetan serangan udara ke wilayah Sanaa dan sekitarnya. Merespons langkah tersebut, kelompok Houthi mengancam akan melancarkan gelombang serangan baru yang menyasar berbagai fasilitas energi vital, termasuk instalasi milik Saudi Aramco. Konflik berdarah ini sebelumnya juga diwarnai serangan Houthi ke Bandara Internasional Riyadh yang menewaskan 13 orang serta menghentikan sementara operasional penerbangan, yang berdampak pada pembatalan jadwal sejuta penerbangan dari berbagai maskapai internasional.
Memanasnya konfrontasi di pusat kawasan penghasil energi ini memantik respons tegas dari lembaga keuangan dunia. Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, memperingatkan bahwa konflik yang mengguncang Arab Saudi berpotensi menimbulkan dampak sistemik ke berbagai negara. Gangguan pada stabilitas Arab Saudi dinilai berisiko memperburuk ketidakpastian ekonomi global, mengingat peran strategis negara tersebut dalam menjaga pasokan energi dunia.
Sumber: New Arab, MEMO




