Oleh : Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi
Tanya: Apa nasihat Anda bagi orang yang disempitkan rezekinya?
Jawaban Syaikh:
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada manusia paling mulia yang diutus sebagai Rasul, beserta keluarganya dan seluruh sahabatnya.
Nasihatku untukmu, saudaraku tercinta, dan bagi seluruh umat Islam adalah sesuatu yang diminta dengan tuntutan kewajiban. Rasulullah ﷺ yang mulia telah menjadikannya sebagai intisari agama, sebagaimana diriwayatkan oleh sahabatnya, Tamim Ad-Dari, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim yang termasuk dalam Al-Arba’in An-Nawawiyyah : “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya: “Untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Untuk Allah, Rasul-Nya, Kitab-Nya, para pemimpin umat Islam, dan masyarakat umumnya.” Nasihat ini tercermin dalam beberapa hal yang diambil dari Al-Qur’an dan Sunnah.
Sebelum kusebutkan nasihatku secara rinci, aku ingin engkau tahu bahwa kesempitan dan kelapangan rezeki adalah persoalan relatif (nisbi). Betapa banyak orang yang mengira mereka dalam kesempitan, tetapi keberkahan menjadikan kesempitan mereka lapang. Qana’ah (merasa cukup) dengan apa yang Allah rezekikan membuat mereka berkecukupan. Ridha dengan apa yang Allah bagikan membuat mereka merasa cukup. Seorang penyair berkata:
Demi umurmu, negeri tak sempit oleh penduduknya
Namun akhlak manusialah yang menjadi sempit
Dan dalam hadis disebutkan: “Ridhailah dengan apa yang Allah bagikan untukmu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya.”
Seorang penyair berkata:
Jika engkau memiliki hati yang qana’ah (merasa cukup)
Maka engkau dan pemilik dunia adalah sama!
Inilah hal pertama yang kunasihatkan kepadamu dan kepada diriku sendiri. Bisa jadi engkau memiliki banyak harta, namun itu tidak membuatmu merasa cukup dan puas, karena engkau selalu berkata: “Adakah tambahan lagi?”
Bagaimanapun, aku akan memulai dengan menjelaskan sebab-sebab yang dengannya Allah melapangkan rezeki yang halal bagi manusia, yaitu sebagai berikut:
Bertakwa kepada Allah Ta’ala
Ini adalah sebab pertama bagi kelapangan dan keberkahan rezeki. Allah telah menjanjikan hal ini kepada orang-orang yang bertakwa. Dia berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ ٢
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3).
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ ٩٦
Dia juga berfirman: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96). Dan Dia berfirman tentang Ahli Kitab:
وَلَوْ اَنَّهُمْ اَقَامُوا التَّوْرٰىةَ وَالْاِنْجِيْلَ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِمْ مِّنْ رَّبِّهِمْ لَاَكَلُوْا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ اَرْجُلِهِمْۗ مِنْهُمْ اُمَّةٌ مُّقْتَصِدَةٌۗ وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ سَاۤءَ مَا يَعْمَلُوْنَࣖ ٦٦
“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka.” (QS. Al-Ma’idah: 66).
Bertakwa kepada Allah dilakukan dengan mengerjakan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang serta dicegah.
Taubat dan Istighfar
Sesungguhnya, manusia pada tabiatnya adalah lemah, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
{وَخُلِقَ الْاِنْسَانُ ضَعِيْفًا}
“Dan manusia diciptakan bersifat lemah.” (QS. An-Nisa’: 28). Ia tidak lepas dari kelalaian, kemaksiatan, dan pelanggaran baik dalam meninggalkan perintah maupun melakukan hal yang dilarang. Di antara bahaya dosa adalah ia menjadi salah satu sebab terhalangnya rezeki dan keberkahan di dalamnya. Dalam hal ini, Nabi ﷺ bersabda:
“إِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ“
“Sesungguhnya seorang hamba dapat terhalang dari rezeki karena dosa yang ia perbuat.“ (HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh para ahli tahqiq untuk selainnya).
Orang-orang Yahudi tidaklah diharamkan dari hal-hal yang baik melainkan karena kezaliman dan kemaksiatan mereka. Allah berfirman:
فَبِظُلْمٍ مِّنَ الَّذِيْنَ هَادُوْا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبٰتٍ اُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَثِيْرًاۙ ١٦٠ وَّاَخْذِهِمُ الرِّبٰوا وَقَدْ نُهُوْا عَنْهُ وَاَكْلِهِمْ اَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِۗ وَاَعْتَدْنَا لِلْكٰفِرِيْنَ مِنْهُمْ عَذَابًا اَلِيْمًا ١٦١
“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka siksa yang pedih.“ (QS. An-Nisa’: 160-161).
Agar manusia terlepas dari akibat-akibat ini, rezekinya terjaga, dan kemaksiatan tidak membahayakannya, maka wajib baginya untuk segera kembali kepada Tuhannya bertaubat, beristighfar, dan menyesali dosa dan kesalahan yang telah ia lakukan. Istighfar menghancurkan dosa, dan taubat menghapuskan apa yang ada sebelumnya. Selain itu, keduanya juga merupakan sebab turunnya rezeki. Allah berfirman melalui lisan Nabi Hud AS:
وَيٰقَوْمِ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًا وَّيَزِدْكُمْ قُوَّةً اِلٰى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِيْنَ ٥٢
“Dan (dia berkata): ‘Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa’.” (QS. Hud: 52).
Ibnu Katsir berkata:
“أمر هود عليه السلام قومه بالاستغفار، الذي فيه تكفير الذنوب السالفة، وبالتوبة عما يستقبلون، ومن اتصف بهذه الصفة يسَّر الله عليه رزقه، وسهَّل عليه أمره، وحفظ شأنه”
“Nabi Hud AS memerintahkan kaumnya untuk beristighfar, yang dengannya dosa-dosa masa lalu terhapus, dan bertaubat dari apa yang akan mereka lakukan di masa depan. Barangsiapa yang memiliki sifat ini, Allah akan memudahkan rezekinya, mempermudah urusannya, dan menjaga keadaannya.”
Dan Dia berfirman melalui lisan Nabi Nuh AS:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ ١٠ يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙ ١١ وَّيُمْدِدْكُمْ بِاَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ جَنّٰتٍ وَّيَجْعَلْ لَّكُمْ اَنْهٰرًاۗ ١٢
“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai’.” (QS. Nuh: 10-12).
Imam Al-Qurthubi berkata:
“في هذه الآية والتي في هود دليلٌ على أن الاستغفار يستنزل به الرزق والأمطار”
“Dalam ayat ini dan ayat dalam Surah Hud terdapat dalil bahwa istighfar dapat menarik turunnya rezeki dan hujan.”
Ibnu Katsir berkata:
“أي إذا تبتم إلى الله واستغفرتموه وأطعتموه كثر الرزق عليكم، وأسقاكم من بركات السماء، وأنبت لكم من بركات الأرض، وأنبت لكم الزرع، وأدرَّ لكم الضرع، وأمدكم بأموال وبنين أي: أعطاكم الأموال والأولاد، وجعل لكم جنات فيها أنواع الثمار، وخلَّلها بالأنهار الجارية بينها”
“Maksudnya, jika kalian bertaubat kepada Allah, beristighfar, dan taat kepada-Nya, niscaya Dia akan melimpahkan rezeki kepada kalian, menurunkan hujan dari berkah langit, menumbuhkan (tumbuhan) dari berkah bumi, menumbuhkan tanaman untuk kalian, memperbanyak air susu ternak untuk kalian, memberikan kalian harta dan anak-anak—yakni memberikan kalian harta dan keturunan serta menjadikan untuk kalian kebun-kebun dengan berbagai macam buah-buahan dan mengalirkan sungai-sungai di antaranya.”
Mutharrif meriwayatkan dari Asy-Sya’bi bahwa Amirul Mukminin Umar RA keluar untuk meminta hujan bersama orang-orang. Beliau tidak melakukan apa pun selain beristighfar hingga kembali. Ada yang bertanya kepadanya: “Kami tidak mendengar engkau meminta hujan (dengan doa khusus).” Beliau menjawab: “Aku meminta hujan dengan kunci-kunci langit yang digunakan untuk menurunkan hujan,” lalu beliau membaca ayat:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ ١٠ يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙ ١١
“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat’.” (QS. Nuh: 10-11).
Seorang laki-laki mengeluhkan kekeringan kepada Al-Hasan Al-Bashri. Beliau menjawab: “Beristighfarlah kepada Allah.” Laki-laki lain mengeluhkan kemiskinan, beliau menjawab: “Beristighfarlah kepada Allah.” Laki-laki lain memintanya berdoa agar dikaruniai anak, beliau menjawab: “Beristighfarlah kepada Allah.” Laki-laki lain mengeluhkan kebunnya yang kering, beliau menjawab: “Beristighfarlah kepada Allah.” Orang-orang pun berkata kepadanya: “Datang kepadamu orang-orang dengan berbagai keluhan, namun engkau memerintahkan mereka semua untuk beristighfar.” Beliau menjawab: “Aku tidak mengatakan ini dari diriku sendiri. Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Nuh:
{فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَاراً * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَاراً}
‘Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai’.”
Berbakti kepada Kedua Orang Tua dan Menyambung Tali Silaturahmi
Terdapat banyak hadis mengenai hal ini, di antaranya:
Hadis yang diriwayatkan Al-Bukhari dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
“مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“
“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” Juga hadis yang diriwayatkan Al-Bukhari dari Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ”
“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Al-Bukhari). Imam Al-Bukhari memberi judul untuk kedua hadis ini dengan: “Bab: Orang yang Dilapangkan Rezekinya karena Menyambung Tali Silaturahmi.”
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi ﷺ bersabda:
“تَعَلَّمُوا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُونَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ، فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِي أهْلهِ، مَثْرَاةٌ فِي مَالِه، مَنْسَأَةٌ فِي أَثَرِهِ“
“Pelajarilah nasab kalian sehingga kalian dapat menyambung tali silaturahmi, karena menyambung tali silaturahmi menumbuhkan kecintaan pada keluarga, memperbanyak harta, dan memanjangkan umur.” Para pentahqiq Al-Musnad mengatakan: Sanadnya hasan. Al-Albani menshahihkannya.
Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib RA bahwa Nabi ﷺ bersabda:
“مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُمَدَّ لَهُ فِي عُمْرِهِ، وَيُوَسَّعَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُدْفَعَ عَنْهُ مِيتَةُ السُّوءِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“
“Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya, dilapangkan rezekinya, dan dihindarkan dari kematian yang buruk, hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan menyambung tali silaturahmi.” Para pentahqiq Al-Musnad mengatakan: Sanadnya kuat. Dalam Al-Adab Al-Mufrad, Abdullah bin Umar RA berkata:
“مَنِ اتقى ربه، ووصل رحمه، نُسّىءَ في أجله -وفي لفظ: أُنسيء لَهُ فِي عُمُرهِ- وَثَرَى مَالُهُ، وأحبَّه أهله“
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Tuhannya dan menyambung tali silaturahmi, umurnya akan dipanjangkan (dalam riwayat lain: dipanjangkan umurnya), hartanya akan diberkahi, dan keluarganya akan mencintainya.“
Inilah sejumlah hadis. Orang yang merenungkannya akan memahami nilai dan buah dari silaturahmi, yang terpenting di antaranya adalah: kelapangan rezeki, penambahan umur, terhindar dari kematian buruk, dan kecintaan keluarga. Orang yang paling berhak untuk disambung tali silaturahimnya adalah kedua orang tua dan kerabat dekat, kemudian yang berikutnya dan seterusnya.
Silaturahmi dapat diwujudkan dengan berbagai cara, seperti: berbuat baik kepada mereka, mengunjungi mereka, menyayangi mereka, menanyakan kabar mereka, memperhatikan keadaan mereka, membantu yang fakir di antara mereka, menghormati yang tua, menghibur mereka dalam kesedihan, dan berbagi kebahagiaan dengan mereka. Juga dengan mendoakan mereka tanpa sepengetahuan mereka, berprasangka baik terhadap mereka, hati yang bersih dari mereka, memenuhi undangan mereka, mengajak mereka kepada petunjuk, serta memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar. Demikian juga dengan harta, bantuan, dan dukungan dalam kebutuhan dan kesulitan, dan sebagainya.
Berinfak di Jalan Allah
Ini adalah salah satu sebab terpenting bagi kelapangan rezeki. Banyak orang mengabaikannya dengan alasan takut miskin dan melarat, padahal banyak sekali nash dari Al-Qur’an dan Sunnah yang mendorong dan memotivasi untuk berinfak di jalan Allah. Di antaranya:
Firman Allah Ta’ala:
قُلْ اِنَّ رَبِّيْ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ وَيَقْدِرُ لَهٗۗ وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗۚ وَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ ٣٩
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya). Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya’.” (QS. Saba’: 39).
Ibnu Katsir berkata:
“أي مهما أنفقتم من شيء فيما أمركم به، وأباحه لكم، فهو يخلفه عليكم في الدنيا بالبدل، وفي الآخرة بالجزاء والثواب”
“Maksudnya, apa pun yang kalian infakkan dalam hal yang diperintahkan dan dihalalkan bagi kalian, niscaya Dia akan menggantinya untuk kalian di dunia dengan pengganti, dan di akhirat dengan balasan dan pahala.”
Dan firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ اَخْرَجْنَا لَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِۗ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِاٰخِذِيْهِ اِلَّآ اَنْ تُغْمِضُوْا فِيْهِۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ ٢٦٧ اَلشَّيْطٰنُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاۤءِۚ وَاللّٰهُ يَعِدُكُمْ مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًاۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌۖ ٢٦٨
“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan darinya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 267-268).
Di antaranya juga adalah sabda Nabi ﷺ:
“قال الله تبارك وتعالى: يا ابن آدم، أنفق أنفق عليك”
“Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai anak Adam, berinfaklah, niscaya Aku akan memberikan infak (pengganti) kepadamu’.” (HR. Muslim). Dan sabda beliau:
“ما من يوم يصبح العباد فيه إلا ملكان ينزلان فيقول أحدهما: اللهم أعط منفقاً خلفًا، ويقول الآخر: اللهم أعط ممسكاً تلفًا”
“Tiada hari yang dilalui oleh para hamba di pagi harinya, melainkan dua malaikat turun. Salah satunya berdoa: ‘Ya Allah, berikanlah pengganti kepada orang yang berinfak.’ Yang lain berdoa: ‘Ya Allah, berikanlah kebinasaan kepada orang yang menahan (hartanya, kikir)’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Semua hadis ini mendorong untuk berinfak pada jalan-jalan kebaikan, memberikan kabar gembira akan pengganti dari karunia Allah Ta’ala bagi orang yang berinfak, serta mengangkat kedudukan orang yang berinfak di hati manusia.
Berbuat Baik kepada Orang-Orang Lemah
Ini termasuk di antara sebab-sebab Allah memberikan rezeki dan pertolongan-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Hal ini dijelaskan oleh Nabi ﷺ dalam hadis Mush’ab bin Sa’ad RA, ketika Sa’ad melihat bahwa dirinya memiliki kelebihan dibanding yang lain, lalu Rasulullah ﷺ bersabda:
“هل تنصرون وترزقون إلا بضعفائكم“
“Bukankah kalian ditolong dan diberi rezeki melainkan karena orang-orang lemah di antara kalian?” (HR. Al-Bukhari).
Dari Abu Ad-Darda’ RA, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
“ابغوني في ضعفائكم، فإنما ترزقون وتنصرون بضعفائكم”
“Carilah (keridhaan)-ku melalui orang-orang lemah di antara kalian, karena sesungguhnya kalian diberi rezeki dan ditolong hanya karena orang-orang lemah di antara kalian.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani). Dalam kisah para pemilik kebun yang Allah ceritakan dalam Surah Al-Qalam (68) terdapat pelajaran dan nasihat.
Menghadirkan Hati dalam Ibadah
Di antara sebab-sebab yang dapat menarik rezeki adalah mengkhususkan hati untuk ibadah saat melaksanakannya. Dalam hadis dari Abu Hurairah RA, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
“إن الله تعالى يقول: يا ابن آدم، تفرغ لعبادتي أملأ صدرك غنى، وأسد فقرك، وإن لا تفعل ملأت يدك شغلًا، ولم أسد فقرك”
“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai anak Adam, kosongkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan memenuhi dadamu dengan kekayaan dan menutupi kefakiranmu. Jika tidak, Aku akan memenuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak akan menutupi kefakiranmu’.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Albani).
Dari Ma’qil bin Yasar RA, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“يقول ربكم تبارك وتعالى: يا ابن آدم، تفرغ لعبادتي أملأ قلبك غنى، وأملأ يديك رزقًا. يا بن آدم، لا تباعدني فأملأ قلبك فقرًا، وأملأ يديك شغلًا”
“Tuhanmu Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berfirman: ‘Wahai anak Adam, luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi tanganmu dengan rezeki. Wahai anak Adam, janganlah engkau menjauh dariku, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan’.” (HR. Al-Hakim, dishahihkan oleh Al-Albani).
Dalam dua hadis ini, Allah Ta’ala menjanjikan dua hal bagi orang yang meluangkan waktu untuk beribadah kepada-Nya: hatinya dipenuhi dengan kekayaan dan tangannya dipenuhi dengan rezeki.
Tidak ada dalam hadis ini ajakan untuk bermalas-malasan, meninggalkan pekerjaan, dan berhenti mencari rezeki. Yang dimaksud adalah agar hati hadir selama ibadah, terbebas dari kesibukan dan kekhawatiran yang menyibukkan seorang hamba dari Tuhannya. Saat itulah hati merasakan bahwa ia sedang bermunajat kepada Pemilik langit dan bumi, lalu merasa cukup dengan-Nya dibanding selain-Nya. Maka, hati pun bahagia dengan ketaatan, dan kehidupan menjadi melimpah dengan rezeki.
Bersyukur kepada Allah atas Nikmat yang Ada
Di antara sebab bertambahnya rezeki adalah bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat yang melimpah. Allah berfirman:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ٧
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (QS. Ibrahim: 7).
Syukur dapat mengikat nikmat yang sudah ada dan menarik nikmat yang belum ada. Dalam hal ini, Umar bin Abdul Aziz berkata:
“قيَّدوا نعم الله بشكر الله، فالشكر قيد النعم، وسبب المزيد“
“Ikatlah nikmat-nikmat Allah dengan syukur kepada Allah, karena syukur adalah pengikat nikmat dan penyebab tambahan.” Syukur kepada Allah diwujudkan dengan: mengakui nikmat dalam hati, memuji Allah dengan lisan, dan menggunakan nikmat tersebut pada hal-hal yang diridai Allah.
Menikah
Allah Ta’ala berfirman:
وَاَنْكِحُوا الْاَيَامٰى مِنْكُمْ وَالصّٰلِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَاِمَاۤىِٕكُمْۗ اِنْ يَّكُوْنُوْا فُقَرَاۤءَ يُغْنِهِمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ ٣٢
“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 32).
Umar bin Khattab RA berkata:
عجبًا لمن لم يلتمس الغنى في النكاح، والله يقول: {إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ}
“Aku heran pada orang yang tidak mencari kekayaan (kecukupan) melalui pernikahan, padahal Allah berfirman: ‘Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya’.”
Mengiringi Ibadah Haji dengan Umrah (At-Tabi’ah bain al-Hajj wal ‘Umrah)
Di antara hal-hal yang dijadikan Islam sebagai sebab untuk menghilangkan kemiskinan dan melapangkan rezeki adalah mengiringi ibadah haji dengan umrah (berturut-turut atau berkali-kali). Dalam hadis dari Ibnu Abbas RA yang marfu’:
“تابعوا بين الحج والعمرة، فإنهما ينفيان الفقر والذنوب كما ينفي الكير خبث الحديد والذهب والفضة، وليس للحجة المبرورة ثواب إلا الجنة”
“Iringilah (teruslah) antara haji dan umrah, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa sebagaimana ubupan api (al-kīr) menghilangkan karat besi, emas, dan perak. Dan tidak ada balasan bagi haji yang mabrur selain surga.” (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i, dishahihkan oleh Al-Albani).
“Mengiringi antara haji dan umrah (at-tabi’ah)” memiliki dua makna menurut para ulama:
Mengiringi antara haji dan umrah dengan mengulanginya berkali-kali bagi yang mampu melakukannya.
Menjadikan salah satunya menyusul yang lain, yaitu haji diikuti umrah atau umrah diikuti haji secara berurutan. Misalnya, jika seseorang telah berhaji lalu berumrah, atau sebaliknya.
Mengambil Sebab-Sebab untuk Mencari Penghidupan
Tidaklah cukup hal-hal sebelumnya tanpa mengambil sebab-sebab untuk mencari penghidupan (al-aksab). Sesungguhnya, sunatullah telah berlaku bahwa rezeki-Nya tidak akan diperoleh kecuali dengan kerja keras dan usaha. Barangsiapa bersungguh-sungguh, ia akan mendapatkan. Barangsiapa menanam, ia akan menuai. Allah Ta’ala berfirman:
هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ ١٥
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk: 15).
Maka, barangsiapa yang berjalan di segala penjuru bumi yang mudah itu, ia akan makan dari rezeki Allah. Dan barangsiapa yang duduk dan bermalas-malasan tanpa uzur pantas jika ia tidak makan, kecuali dengan mengambil dari hak orang lain yang berjalan dan bekerja.
Oleh karena itu, Islam mendorong untuk berusaha dan bekerja, serta memperingatkan dari pengangguran dan kemalasan.
فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ١٠
“Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah.” (QS. Al-Jumu’ah: 10).
Rasulullah ﷺ bersabda:
“ما أكل أحد طعامًا قط خيرًا من أن يأكل من عمل يده”
“Tidaklah seseorang memakan makanan sedikit pun yang lebih baik daripada memakan hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Al-Bukhari).
Dan beliau sangat menjauhkan dari meminta-minta kepada manusia, dengan bersabda:
“ما يزال الرجل يسأل الناس حتى يأتي يوم القيامة وليس في وجهه مزعة لحم”
“Seseorang akan terus meminta-minta kepada orang lain hingga ia datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Inti dari semua ini adalah sebagaimana yang kami sebutkan di awal: bertakwa kepada Allah dengan mengerjakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Tidaklah nikmat-nikmat Allah diperoleh dengan sesuatu yang seperti ketaatan, dan tidaklah keberkahannya dihapuskan dengan sesuatu yang seperti kemaksiatan.
Aku memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla semoga Dia menganugerahkan kepadamu dan kaum Muslimin rezeki yang halal, baik, dan penuh berkah. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Sumber : Fatwa resmi Syekh Dr. Yusuf Al-Qaradawi di Al-Qaradawi.net





