Menurut NYT, pembunuhan Khamenei telah menciptakan perpecahan mendalam di antara warga Iran. Sebagian melihatnya sebagai akhir dari era represif dan awal harapan akan perubahan, sementara yang lain menganggapnya sebagai tragedi nasional dan bentuk campur tangan asing baru dalam sejarah Iran.
1. Akankah Pemerintah Iran Runtuh?
Trita Parsi, pendiri dan wakil presiden Quincy Institute, dengan tegas menyatakan bahwa “asumsi AS bahwa rezim Iran berada di ambang kehancuran adalah keliru.” Menurutnya, struktur negara Iran dirancang untuk bertahan bahkan ketika kehilangan para pemimpinnya. Serangan AS-Israel justru memperkuat sentimen nasionalis di dalam negeri, bahkan di kalangan oposisi. “Jika rakyat Iran merasa tujuan eksternal adalah untuk membagi negara, hal itu dapat memberi rezim kesempatan untuk menyusun kembali barisannya,” katanya.
2. Bagaimana Peran Korps Pengawal Revolusi (IRGC)?
Ali Vaez, direktur Proyek Iran di International Crisis Group, menekankan bahwa IRGC adalah entitas yang paling mampu mengendalikan kekuasaan pascaperang. IRGC bukan sekadar kekuatan militer; ia telah merambah ekonomi, politik, dan media. Bahkan dengan penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru, Vaez memperkirakan ia akan lemah secara politik, sementara IRGC menjalankan kekuasaan aktual di belakang layar.
3. Mungkinkah Revolusi Terjadi?
Sanam Vakil, direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara di Chatham House, berpendapat bahwa serangan militer telah membuka peluang historis untuk perubahan politik. Namun, “oposisi tidak siap untuk memanfaatkannya.” Baik kelompok monarkis, Mujahidin Khalq, maupun kelompok etnis terperangkap dalam konflik ideologis dan tidak memiliki “rencana untuk hari esok” atau kepemimpinan yang bersatu. Kemarahan publik saja tidak cukup untuk menghasilkan transisi politik yang terorganisir.
4. Akankah Monarki Kembali?
Stephen Kinzer, peneliti di Brown University, menilai skenario kembalinya monarki melalui Reza Pahlavi sangat tidak mungkin. Sejarah campur tangan asing—terutama kudeta terhadap Mohammad Mossadegh pada 1953 yang direncanakan CIA dan MI6—telah meninggalkan “luka mendalam” dalam jiwa nasional Iran. Masyarakat Iran sangat sensitif terhadap pemimpin yang berkuasa dengan dukungan asing. Pahlavi dipandang sebagai kandidat yang tidak serius, tidak memahami realitas Iran modern, dan terlalu dekat dengan Washington dan Tel Aviv.
5. Bahaya Kekacauan Regional
Yasmine Farouk, direktur Proyek Teluk di International Crisis Group, memperingatkan bahwa runtuhnya negara Iran dapat memicu “kekacauan regional yang luas.” Iran adalah negara besar dengan 90 juta penduduk, memiliki kemampuan nuklir, rudal, dan jaringan sekutu di kawasan. Jika institusi negara runtuh, kemampuan ini dapat menyebar ke berbagai kelompok bersenjata, menyebabkan gelombang pengungsian besar-besaran dan kekacauan keamanan yang membentang dari Teluk hingga Asia Tengah.
6. Rakyat Iran sebagai Pemilik Masa Depan
Matin-Asgari, profesor sejarah di California State University, berpendapat bahwa skenario terbaik adalah transisi politik yang dipimpin oleh rakyat Iran sendiri. Rezim telah lama menderita krisis ekonomi dan politik yang dalam, dan masyarakat Iran telah melalui gelombang protes besar-besaran. Perubahan dapat terjadi melalui referendum konstitusional atau proses transisi yang dipimpin oleh politisi reformis dan tokoh masyarakat sipil. Keberhasilan transisi demokratis membutuhkan penghentian perang dan rakyat Iran yang memutuskan masa depan mereka tanpa campur tangan asing.
Dengan enam sudut pandang yang berbeda, masa depan Iran tetap terbuka terhadap berbagai kemungkinan—antara bertahannya rezim, munculnya kekuatan baru dengan dukungan asing, atau memasuki fase transformasi mendalam yang belum jelas bentuknya.
Sumber: The New York Times, seperti dilaporkan Al Jazeera.





