Allah Ta’ala berfirman:
وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى ٱلَّذِينَ ٱسْتُضْعِفُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةًۭ وَنَجْعَلَهُمُ ٱلْوَٰرِثِينَ ٥ وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ وَنُرِىَ فِرْعَوْنَ وَهَـٰمَـٰنَ وَجُنُودَهُمَا مِنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَحْذَرُونَ ٦
“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin serta menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), dan Kami teguhkan kedudukan mereka di bumi…” (QS. Al-Qashash: 5–6).
Sepanjang sejarahnya yang panjang di muka bumi, kemanusiaan telah berulang kali mengalami perendahan martabat. Sebagian manusia membagi kehidupan menjadi kubu yang kuat dan lemah, kaya dan miskin. Mereka yang kuat kemudian bertindak sewenang-wenang terhadap orang-orang bersahaja dan lemah, serta memanfaatkannya demi kepentingan dan ambisi pribadi. Di sinilah agama-agama hadir untuk mengangkat penderitaan mereka yang mengikuti dakwah para nabi, berjuang untuknya, dan memenuhi panggilan Tuhan mereka.
Al-Qur’an mengabadikan bagaimana orang-orang berkuasa menolak dakwah para nabi. Secara terang-terangan dan tanpa aling-aling, mereka menuntut agar para nabi mengusir orang-orang yang tertindas ini, atau setidaknya memisahkan hari yang berbeda antara mereka dengan para hamba sahaya serta kaum lemah.
Lalu turunlah ayat-ayat Al-Qur’an yang meruntuhkan hawa nafsu dan menghancurkan prasangka mereka. Allah berfirman kepada Nabi SAW:
وَلَا تَطْرُدِ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ ۖ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِم مِّن شَىْءٍۢ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِم مِّن شَىْءٍۢ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ ٥٢ وَكَذَٰلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُم بِبَعْضٍۢ لِّيَقُولُوٓا۟ أَهَـٰٓؤُلَآءِ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنۢ بَيْنِنَا ۗ أَلَيْسَ ٱللَّهُ بِأَعْلَمَ بِٱلشَّـٰكِرِينَ ٥٣
“Dan janganlah engkau mengusir orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan petang hari, sedang mereka mengharapkan keridaan-Nya. Engkau tidak bertanggung jawab sedikit pun atas hisab mereka dan mereka pun tidak bertanggung jawab sedikit pun atas hisabmu, yang menyebabkan engkau mengusir mereka hingga engkau termasuk orang-orang yang zalim. Dan demikianlah telah Kami uji sebagian mereka dengan sebagian yang lain, supaya mereka berkata: ‘Apakah mereka ini orang-orang yang diberi karunia oleh Allah di antara kita?’ Bukankah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur?” (QS. Al-An’am: 52–53).
Nasib dan martabat seseorang tidak ditentukan oleh kekayaan atau kemiskinannya, bukan pula oleh kekuatan atau kelemahannya, melainkan oleh substansi diri, hakikat jiwa, dan kerja kerasnya demi kebaikan serta kesempurnaan kemanusiaan. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
“Siapa yang lambat amalnya, tidak akan bisa dipercepat oleh nasabnya.” (HR. Muslim no. 2699).
Agama hadir untuk meruntuhkan tolok ukur yang timpang ini dan menempatkan manusia pada kedudukan yang semestinya, yaitu kedudukan yang telah dipilihkan Allah sebagai khalifah:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌۭ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةًۭ ۖ
“…Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…” (QS. Al-Baqarah: 30).
Kemudian, Al-Qur’an menaikkan tingkatan mereka hingga ke ranah kepemimpinan bersama Rasulullah, sosok pilihan yang tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu. Bahkan, Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk tidak memutuskan suatu perkara sebelum bermusyawarah dengan masyarakat:
فَبِمَا رَحْمَةٍۢ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
“…dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu…” (QS. Ali ‘Imran: 159).
Demikianlah gambaran tentang bagaimana Islam mengangkat mereka yang selama ini dipandang rendah: bukan dengan mengubah ukuran kemuliaan menjadi kekayaan, kedudukan, atau kekuasaan, tetapi dengan mengembalikan manusia kepada martabatnya sebagai manusia dan menilai mereka berdasarkan iman, amal, dan kontribusinya dalam kebaikan.
Sumber: IUMSOnline



