Gelombang kekerasan yang dilancarkan oleh pemukim Israel dan pasukan pendudukan terhadap warga Palestina di Tepi Barat terus meningkat secara signifikan. Serangan-serangan ini, yang seringkali dilakukan secara terkoordinasi oleh kelompok-kelompok seperti “Price Tag” (Tagar Harga) dan “Hilltop Youth” (Pemuda Bukit), menargetkan individu, lahan pertanian, dan properti warga, dengan dugaan kuat sebagai strategi sistematis untuk memperluas permukiman ilegal dan memaksa penduduk asli meninggalkan tanah mereka.
Laporan dari Palang Merah Palestina dan sumber-sumber lokal yang dikutip Al Jazeera pada hari ini (14/2) menggambarkan situasi yang mencekam di berbagai wilayah Tepi Barat.
Serangan Terkoordinasi di Nablus dan Sekitarnya
Insiden paling menonjol terjadi di Desa Talfit, selatan Nablus. Lebih dari 50 pemukim bersenjata dari kelompok “Price Tag” dan “Hilltop Youth” menyerang desa tersebut. Mereka datang dari permukiman ilegal “Yish Kudesh” dan pos-pos terdepan baru di sekitarnya.
Para pemukim melempari rumah-rumah warga dengan batu, menyebabkan kerusakan pada 10 kendaraan dan 4 rumah, serta melukai 3 warga Palestina. Warga desa berusaha melawan, namun tak lama kemudian, pasukan pendudukan Israel masuk dan bentrokan pecah. Akibatnya, total korban luka di Desa Talfit mencapai sekitar 25 orang, dengan beberapa di antaranya terkena tembakan, gas air mata, lemparan batu, dan bahkan sabetan pisau. Beberapa korban dilaporkan dalam kondisi kritis.
Pola Serangan Berulang: Dari Ramallah hingga Yerusalem
Di Desa Al-Mughayyir, warga harus menghadapi serangan hampir setiap hari dari pemukim dan tentara. Sementara itu, di dataran Kota Turmus Ayya di utara Ramallah, pemukim mencabut puluhan pohon zaitun milik petani Palestina.
Di utara Lembah Yordan (Al-Aghwar), situasi lebih tragis. Di Khirbet Al-Miteh, tujuh keluarga terpaksa mengungsi dari rumah mereka karena intensitas serangan pemukim yang terus meningkat. Warga di Khirbet Mak-hul juga melakukan perlawanan terhadap serangan serupa, yang menurut sumber-sumber Palestina merupakan bagian dari “kebijakan pengusiran sistematis” yang didukung pemerintah Israel.
Bahkan di Yerusalem Timur yang diduduki, serangan tak berhenti. Di lingkungan Sur Bahir, para pemukim merusak ban lebih dari 10 truk dan kendaraan milik warga Palestina pada dini hari, menambah panjang daftar kerusakan properti di wilayah yang diklaim sebagai ibu kota negara Palestina di masa depan.
Apa Tujuan di Balik Eskalasi Ini?
Para pengamat dan warga Palestina melihat pola yang jelas di balik serangan yang terus meningkat ini:
Menciptakan Realitas Baru di Lapangan: Dengan menduduki tanah, merusak properti, dan meneror warga, para pemukim berusaha memperluas wilayah permukiman ilegal dan mempersulit kehidupan bagi penduduk asli.
Memaksa Pengusiran (Transfer Paksa): Tekanan terus-menerus yang dilakukan oleh kelompok “Price Tag” dan “Hilltop Youth”, yang seringkali dilindungi atau didukung oleh militer Israel, bertujuan untuk membuat warga Palestina meninggalkan tanah mereka secara sukarela karena ketakutan dan ketidakmampuan bertahan.
Menggagalkan Solusi Dua Negara: Dengan mengambil alih lebih banyak tanah di Area C dan sekitarnya, upaya ini secara sistematis menggerus wilayah yang seharusnya menjadi bagian dari negara Palestina di masa depan.
Serangan-serangan ini terjadi di tengah situasi yang sudah sangat tegang di wilayah pendudukan, dan menambah penderitaan rakyat Palestina yang juga menyaksikan krisis kemanusiaan dan militer yang terus berlangsung di Jalur Gaza.
Sumber: Al Jazeera.





