Oleh: Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi
Pertanyaan:
Apakah dua nikmat besar yang wajib selalu disyukuri oleh seorang muslim?
Jawaban Yang Mulia Syaikh Al-Qaradhawi:
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah, keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Wa ba’du.
Di antara karunia Allah kepada umat Islam dan kesempurnaan nikmat-Nya atas mereka adalah dua nikmat besar yang menjadi ciri khas umat terakhir ini.
وَٱللَّهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِۦ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ ذُو ٱلْفَضْلِ ٱلْعَظِيمِ
“Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya untuk menerima rahmat-Nya; dan Allah memiliki karunia yang besar.” (QS. Al-Baqarah: 105)
Nikmat Agung Pertama: Nikmat Keabadian Al-Qur’an
Yaitu keabadian sumber-sumber agama ini dan tetap terpeliharanya dengan penjagaan Allah. Umat ini adalah umat terakhir yang dibebani oleh Allah dengan risalah terakhir. Tidak ada nabi setelah nabinya, tidak ada kitab setelah kitabnya, dan tidak ada syariat setelah syariatnya. Karena itu, Allah tidak menyerahkan pemeliharaan kitab-Nya kepada para pemeluknya seperti kitab-kitab sebelumnya, tetapi Dia sendiri yang memeliharanya. Allah berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَـٰفِظُونَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami pasti memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)
Al-Qur’an adalah sumber pertama agama ini, sumber utama akidah, syariat, dan perilaku.
Realitas sejarah telah membuktikan kebenaran janji Ilahi ini dengan sebenar-benarnya. Telah berlalu empat belas abad lebih sejak Al-Qur’an diturunkan, dan ia tetap sebagaimana Allah menurunkannya, sebagaimana Rasulullah membacakannya kepada para sahabatnya, dan sebagaimana ditulis pada masa Utsman r.a. Generasi demi generasi mewariskannya, terpelihara dalam dada, dibacakan oleh lisan, dan tertulis dalam mushaf-mushaf.
Tidak ada kitab yang dihafal di luar kepala oleh puluhan ribu, bahkan ratusan ribu, umatnya selain Al-Qur’an yang agung, yang tidak didatangi kebatilan baik dari depan maupun dari belakang, diturunkan dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Pemeliharaan Al-Qur’an—sebagaimana ditegaskan oleh Imam Asy-Syathibi rahimahullah—juga mencakup pemeliharaan Sunnah, karena Sunnah adalah penjelasan teoritis dan praktis dari Al-Qur’an. Pemeliharaan yang dijelaskan mencakup pemeliharaan penjelasannya pula.
Nikmat Agung Kedua: Nikmat Sirah Nabawiyah
Yaitu sirah Nabi yang harum, sebuah sirah yang istimewa dengan karakteristik yang telah diuraikan oleh para ulama ahli tahqiq. (Di antaranya yang paling menonjol adalah ceramah-ceramah al-‘Allamah Sulaiman An-Nadwi yang diterjemahkan dari bahasa Urdu ke bahasa Arab oleh al-‘Allamah Muhyiddin Al-Khatib dan diterbitkan oleh Al-Maktabah As-Salafiyah dengan judul Ar-Risalah Al-Muhammadiyah—sebuah buku yang layak dibaca).
Sirah ini adalah sirah ilmiah yang terdokumentasi, sirah historis yang kokoh, sirah yang lengkap siklusnya dari kelahiran hingga wafat, dan sirah yang komprehensif dan menyeluruh yang menggambarkan kehidupan Nabi ﷺ dalam peristiwa-peristiwa nyata yang berbicara dan bermakna. Kehidupan yang utuh dan seimbang ini, di mana kita menemukan Islam yang hidup, Al-Qur’an yang ditafsirkan, dan nilai-nilai Islam yang berjalan di tengah masyarakat dengan kokoh. Kehidupan ini adalah penerapan praktis dari Al-Qur’an, sebagaimana yang dikatakan Aisyah ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah ﷺ, ia menjawab, “Akhlaknya adalah Al-Qur’an.”
Kehidupan inilah yang membuat setiap muslim menemukan teladan terbaik dan panutan tertingginya. Tuhannya telah mendidiknya dengan sebaik-baik pendidikan, menurunkan kepadanya kitab dan hikmah, mengajarinya apa yang tidak diketahuinya, dan karunia Allah atasnya sangat besar. Allah juga memberikan karunia kepada orang-orang beriman dengan mengutus seorang rasul dari kalangan mereka sendiri:
يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَـٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَـٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَـٰلٍۢ مُّبِينٍۢ
“Yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah, meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali Imran: 164)
Allah berfirman:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْـَٔاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًۭا
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Tidak ada pada umat Yahudi, Nasrani, maupun pemeluk agama lain, sirah yang hidup, berdenyut, dan mencakup seluruh fase dan aspek kehidupan seperti ini. Hal ini tergambar dalam kitab-kitab Syama’il Nabawiyah dan kitab-kitab tentang petunjuk Nabi: tentang makan dan minum, tentang pakaian dan perhiasan, tentang tidur dan bangun, tentang saat di rumah dan bepergian, tentang tertawa dan menangis, tentang keseriusan dan hiburan, tentang ibadah dan muamalah, tentang urusan agama dan dunia, tentang damai dan perang, tentang interaksi dengan kerabat dan orang jauh, dengan pendukung dan lawan, bahkan hingga hal-hal yang disebut orang sebagai “hal-hal pribadi” seperti bermuamalah dengan istri, semuanya diriwayatkan dan terpelihara dalam sirah yang sempurna ini.
Allah Maha Tinggi lagi Maha Mengetahui.
Su1mber: Al-Qaradawi.net




