Garda Revolusi Iran mengeluarkan sebuah pernyataan pada hari Kamis (1/10/2026) menanggapi penarikan penuh pasukan AS dari Irak. IRGC menganggapnya sebagai kemenangan bagi kehendak rakyat Irak dan poros perlawanan Islam.
Dalam pernyataan yang diterima oleh media Baghdad Today, Garda Revolusi Iran menyatakan: “Garda Revolusi Iran, dengan mengingat kembali para syuhada perlawanan Islam Irak dan regional, khususnya komandan Hajj Qassem Soleimani, dan syuhada Abu Mahdi al-Muhandis, serta semua mujahidin beriman yang gugur selama dua dekade konfrontasi dengan penjajah Amerika, menyampaikan selamat atas kemenangan bersejarah ini bagi rakyat Irak yang berani, poros perlawanan Islam yang bersatu, dan para mujahidin dunia Islam.”
IRGC menambahkan: “Kepergian Amerika dari Irak adalah hasil dari tekad rakyat di negara pemberani ini untuk mencapai kemerdekaannya. Rakyat Irak telah membuktikan, dengan sikap bersejarah mereka, bahwa kemauan nasional adalah senjata terkuat dalam menghadapi keserakahan kekuatan kolonial, yang menunjukkan bahwa kemenangan poros perlawanan Irak melawan pendudukan Amerika adalah halaman emas dalam sejarah gerakan pembebasan di kawasan ini.
Garda Revolusi menyimpulkan: “Amerika pergi bukan melalui negosiasi atau konsesi, tetapi melalui tekad rakyat yang teguh, melalui darah para mujahidin yang mengorbankan nyawa mereka, dan melalui kemauan perlawanan yang tak pernah padam. Kini, Irak berdiri tegak dan bebas di atas reruntuhan pendudukan selama dua puluh tahun, menyaksikan fajar kemerdekaan.
Sementara itu, Perdana Menteri Irak, Ali Faleh al-Zaydi, pada Kamis mengumumkan bahwa 1 Oktober 2026 menjadi awal serius bagi pemerintah Irak dalam menangani persoalan senjata yang berada di luar kendali negara. Pemerintah menetapkan 30 Juni 2027 sebagai batas waktu penyelesaian peta jalan penanganan persoalan tersebut.
Langkah itu dilakukan bersamaan dengan berakhirnya misi koalisi internasional dan penarikan pasukannya dari Irak.
Sumber: Baghdad Today & Euro News





