BEIRUT, 15 Maret 2026 — Militer Israel mengeluarkan peringatan mengerikan pada hari Sabtu bahwa mereka mungkin akan menargetkan ambulans dan fasilitas medis di Lebanon. Tuduhan bahwa Hizbullah menggunakan kendaraan medis untuk tujuan militer memicu kekhawatiran luas bahwa skenario genosida di Gaza, di mana rumah sakit dan tim medis menjadi sasaran langsung, akan terulang di Lebanon.
Juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, dalam sebuah pernyataan di platform X, menuduh Hizbullah “secara luas menggunakan ambulans untuk aktivitas terorisnya.” Ia memperingatkan bahwa jika praktik ini tidak dihentikan, Israel akan bertindak sesuai dengan hukum internasional terhadap aktivitas militer Hizbullah yang menggunakan fasilitas dan ambulans tersebut.
Tuduhan ini tidak disertai bukti apa pun, dan hingga kini Israel belum menanggapi permintaan untuk memberikan bukti mengenai penggunaan fasilitas medis atau ambulans oleh Hizbullah secara ilegal.
Bantahan Hizbullah dan Data Korban Medis
Seorang pejabat Hizbullah dengan tegas membantah tuduhan tersebut, menegaskan bahwa partainya tidak menggunakan ambulans atau fasilitas medis untuk tujuan militer.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan pada hari Sabtu bahwa 26 petugas medis telah tewas dan 51 lainnya terluka sejak dimulainya serangan Israel terbaru di Lebanon pada 2 Maret. Kementerian menegaskan bahwa “tentara Israel terus menargetkan tim penyelamat saat mereka menjalankan misi penyelamatan.”
Pada hari Jumat, sebuah serangan Israel menghantam pusat perawatan kesehatan primer di Desa Burj Qalawiya, Lebanon selatan, menewaskan 12 staf medis. Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi jumlah korban tewas. Pencarian masih berlangsung untuk empat orang yang hilang.
Kementerian Kesehatan Lebanon menekankan bahwa penargetan ambulans dan tim medis bertentangan dengan hukum internasional dan Konvensi Jenewa, yang menjamin perlindungan pekerja dan fasilitas medis.
Selebaran Ancaman: “Hancurkan Lebanon Seperti Gaza”
Pada hari Jumat yang sama, pesawat Israel menjatuhkan selebaran di atas Beirut yang mengancam akan menyebabkan kehancuran di Lebanon serupa dengan yang terjadi di Gaza selama dua tahun perang genosida. Di Gaza, sebagian besar wilayah berubah menjadi puing-puing dan sebagian besar penduduknya mengungsi secara paksa.
Selama perang di Gaza, puluhan serangan udara dan serangan Israel dilancarkan terhadap rumah sakit dengan dalih digunakan oleh pejuang Hamas—klaim yang dibantah keras oleh kelompok tersebut. Sistem kesehatan di Gaza runtuh total. Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan bahwa 22 rumah sakit berhenti beroperasi, 211 ambulans diserang, dan 157 dokter, 366 perawat, serta ratusan tenaga medis lainnya tewas.
Kecaman Internasional
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, dalam pidatonya pada Sabtu malam, mengecam keras apa yang disebutnya sebagai “jaringan haus darah” yang terus membom sekolah dan rumah sakit di Iran dan Lebanon, seperti yang mereka lakukan di Gaza. Ia memperingatkan bahwa pengabaian terhadap kehidupan manusia terus berlanjut.
Erdogan menyoroti kematian anak-anak di fasilitas penitipan anak dan unit perawatan intensif, serta gugurnya dokter, perawat, dan pekerja kesehatan bersama dengan warga sipil. Ia mengklaim bahwa hampir 1.700 pekerja kesehatan tewas di Gaza akibat “terorisme negara Israel.”
Dengan ancaman untuk mengebom ambulans dan selebaran yang mengancam kehancuran ala Gaza, kekhawatiran bahwa Lebanon akan menghadapi bencana kemanusiaan serupa semakin menjadi nyata.
Sumber: Al Jazeera





