TEL AVIV, 12 April 2026 — Israel mungkin merasa lega karena Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai kesepakatan dalam negosiasi yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada hari Sabtu. Namun, Israel dapat menghadapi situasi yang lebih memalukan jika perang kembali berkobar dan kemudian gagal mencapai tujuannya, demikian menurut pakar urusan Israel, Imad Abu Awad.
Tel Aviv tidak senang dengan gencatan senjata sementara yang diumumkan Presiden AS Donald Trump. Sekarang, Israel mengandalkan kembalinya perang untuk mencapai tujuan strategisnya dan melancarkan lebih banyak serangan terhadap infrastruktur Iran, menurut Abu Awad.
Bahkan jika Israel gagal mencapai tujuannya dengan kekuatan militer, Abu Awad berpendapat bahwa Israel mengandalkan tekanan AS untuk memaksa Iran mencapai kesepakatan yang menjamin garis merah Israel terkait program nuklir dan rudal Teheran.
Program Rudal Menjadi Garis Merah
Program rudal telah menjadi garis merah penting bagi Israel, setelah Iran mampu menghantam jantung wilayah Israel dalam beberapa pekan terakhir, menurut Abu Awad. Ia mengatakan bahwa Tel Aviv akan menghadapi situasi yang sangat memalukan jika gagal mengakhiri ancaman-ancaman ini dengan kekuatan militer.
Israel bertaruh pada perpanjangan perang dengan harapan mencapai keuntungan besar. Namun pertanyaannya, menurut Abu Awad, adalah tentang bagaimana perang dapat kembali berkobar, dan juga tentang sikap Israel jika menghadapi respons Iran yang kuat seperti yang dihadapinya selama putaran konfrontasi terakhir.
Gagal Mencapai Kesepakatan
Lebih awal hari Minggu, Wakil Presiden AS JD Vance mengumumkan bahwa tidak ada kesepakatan yang dicapai dalam negosiasi dengan Iran, dan mengatakan bahwa ini lebih buruk bagi Iran daripada bagi Amerika. Vance mengatakan dalam pengarahan pers darurat dari Islamabad bahwa kedua delegasi bernegosiasi selama sekitar 21 jam tanpa mencapai kesepakatan yang memuaskan kedua belah pihak. Ia menunjukkan bahwa Iran menolak untuk berkomitmen agar tidak berusaha memiliki senjata nuklir, dan menegaskan bahwa ini adalah tuntutan utama Presiden Trump.
Pengumuman wakil presiden AS ini merupakan kemunduran bagi optimisme yang bocor melalui laporan berita yang berbicara tentang kemungkinan mengadakan putaran negosiasi kedua pada hari Minggu atas permintaan Pakistan.
Trump sebelumnya telah mengancam akan membuka Selat Hormuz dengan kekuatan jika Iran tidak segera menyetujuinya, sementara media Iran melaporkan bahwa Washington mengajukan persyaratan yang dianggap Teheran “berlebihan,” terutama mengenai kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
AS dan Iran mengadakan negosiasi di ibu kota Pakistan setelah mencapai gencatan senjata dua minggu menyusul perang yang berlangsung selama 40 hari.
Sumber: Al Jazeera





