Anggapan bahwa dakwah Islam harus dilakukan dengan cara yang keras atau agresif sama sekali tidak memiliki dasar dalam ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. Pandangan bahwa sikap kasar justru akan membuat orang menjauh adalah hal yang memang ditegaskan dalam tradisi Islam.
Metodologi Dakwah
Al-Qur’an dan teladan Nabi telah memberikan jawaban yang jelas mengenai perdebatan antara pendekatan yang keras dan yang lembut dalam menyampaikan nilai-nilai Islam. Prinsip utama dakwah pada hakikatnya adalah ajakan yang menyasar hati dan pikiran, sehingga proses ini tidak bisa dipaksakan.
Prinsip Utama dalam Al-Qur’an
Allah SWT secara eksplisit telah mengatur bagaimana cara mengajak orang lain kepada Islam, yaitu berlandaskan hikmah, kebaikan, dan cara yang baik. Al-Qur’an menegaskan:
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sungguh, Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125).
Selain itu, prinsip mendasar dalam menerima suatu keyakinan adalah kebebasan memilih. Al-Qur’an menyatakan secara tegas:
لَآ إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشْدُ مِنَ ٱلْغَىِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama. Sungguh, telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 256).
Dengan demikian, memaksakan suatu nilai kepada orang lain bertentangan dengan prinsip yang ditegaskan dalam ayat tersebut.
Sikap Lembut Rasulullah sebagai Teladan
Kenyataan bahwa sikap kasar dapat menjauhkan orang lain tercermin nyata dalam kepribadian Nabi Muhammad SAW. Allah menegaskan bahwa keberhasilan Nabi dalam merangkul umatnya merupakan buah dari kelembutan yang dikaruniakan Allah. Sebaliknya, sikap keras dan kasar justru dapat membuat orang-orang menjauh dari dakwah beliau.
Allah SWT berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍۢ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
“Maka berkat rahmat dari Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 159).
Hal ini juga diperkuat oleh hadis sahih. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
“Sungguh, kelembutan itu tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan memperindahnya, dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu melainkan akan memperburuknya.” (HR. Muslim).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa kelembutan bukan sekadar sikap tambahan dalam berinteraksi, melainkan bagian dari cara yang dapat memperindah suatu perkara. Dalam konteks dakwah, kelembutan membantu pesan disampaikan dengan cara yang lebih dekat kepada hati, tanpa menghilangkan ketegasan terhadap prinsip yang diyakini.
Sumber: Islamonline



