TEHERAN, 7 Maret 2026 — Saat perang memasuki hari ketujuh, Iran menunjukkan kemampuannya menjalankan apa yang disebut pengamat sebagai “pertempuran majemuk” — sebuah strategi yang menggabungkan perlawanan militer, mobilisasi domestik, dan manuver diplomatik secara simultan. Di tengah gempuran rudal yang meluluhlantakkan sejumlah instalasi keamanan di ibu kota dan wilayah perbatasan, Teheran secara bersamaan membuka celah bagi negosiasi melalui sejumlah mediasi regional dan internasional.
Koresponden Al Jazeera di Teheran, Suhaib al-Asa, melaporkan bahwa serangan dalam beberapa hari terakhir telah menargetkan lokasi-lokasi keamanan dan pusat-pusat kepolisian di dalam Kota Teheran, serta meluas ke wilayah barat laut di sepanjang perbatasan Irak. Pola serangan ini, menurut para pengamat, dirancang untuk menekan infrastruktur keamanan Iran, mengacaukan situasi internal, dan mempersulit koordinasi pertahanan.
Isyarat Damai di Tengah Perang
Namun di tengah deru sirene dan ledakan, sinyal-sinyal diplomasi mulai terlihat. Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara terbuka mengakui adanya mediasi yang bertujuan mengakhiri perang dan membuka jalur dialog. Di tingkat Eropa, para menteri luar negeri Uni Eropa dilaporkan meminta pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, dalam upaya membuka saluran komunikasi diplomatik pertama sejak pecahnya konflik.
Ketua Serikat Wartawan Iran, Masha’ullah Shams al-Wa’idzin, mengungkapkan bahwa Kesultanan Oman tengah memimpin upaya mediasi baru, setelah usaha sebelumnya belum membuahkan hasil. Gerakan diplomatik dari Turki juga dilaporkan aktif mencoba mendekatkan pandangan kedua belah pihak. “Inisiatif ini mungkin merupakan hasil dari gerakan independen beberapa negara kawasan, atau mungkin atas permintaan tidak langsung dari Amerika Serikat yang berusaha membuka saluran negosiasi dengan Teheran melalui pihak ketiga,” kata al-Wa’idzin.
Persyaratan Baru Teheran: Jaminan, Bukan Sekadar Negosiasi
Mantan diplomat Iran Abbas Khamyar mencatat bahwa persamaan jaminan telah berubah secara fundamental. “Jika dulu Washington meminta jaminan dari Iran mengenai kepatuhannya terhadap kesepakatan jangka panjang, kini Iran-lah yang menuntut jaminan yang jelas,” tegasnya.
Bagi Teheran, jaminan itu harus dimulai dengan penghentian retorika ancaman dan perang, dilanjutkan dengan pencabutan sanksi ekonomi yang secara langsung membebani ekonomi Iran. Lebih penting lagi, Iran membutuhkan kepastian bahwa serangan militer tidak akan kembali terjadi dan proses negosiasi tidak akan lagi dihancurkan oleh serangan kejutan, seperti yang dialami dalam putaran-putaran sebelumnya.
Kalkulasi Perang dan Daya Tahan Internal
Khamyar menilai bahwa biaya perang kini mulai terlihat oleh semua pihak. Rencana awal AS yang memperkirakan keruntuhan cepat rezim Iran atau meletusnya protes internal besar-besaran tidak terwujud. Hal ini membuat konflik semakin kompleks dan mahal di semua tingkatan—politik, ekonomi, dan keamanan.
Di dalam negeri, pemerintah Iran berhasil menunjukkan mobilisasi massa. Al Jazeera mendokumentasikan kerumunan warga di Lapangan Enghelab (Revolusi) Teheran yang berkumpul atas seruan Dewan Keamanan Nasional sebagai bentuk dukungan terhadap pemerintah. Tidak ada tanda-tanda perpecahan signifikan antara lembaga politik dan militer dalam mengelola konfrontasi. Keputusan akhir berada di tangan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, yang menurut Khamyar, “menjamin koordinasi tingkat tinggi antara berbagai lembaga negara” dan membuat kemungkinan perpecahan internal tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat.
Iran telah menyiapkan diri untuk kemungkinan perang berkepanjangan, mengubah konflik menjadi perang atrisi — sebuah strategi yang menurut pengamat memberi Teheran ruang tawar yang lebih luas jika AS memutuskan untuk mencari jalan keluar politik dari konflik ini. Di persimpangan antara rudal dan diplomasi, Iran bergerak maju dengan kedua kakinya: satu di medan perang, satu lagi di lorong-lorong diplomasi yang gelap.
Sumber: Al Jazeera





