GAZA, 9 Maret 2026 — Enam warga Palestina dilaporkan tewas pada Senin pagi dalam dua serangan terpisah yang dilakukan pasukan Israel di Jalur Gaza, menambah daftar panjang korban jiwa meskipun perjanjian gencatan senjata secara resmi masih berlaku.
Menurut sumber medis di Gaza, tiga warga tewas dan sekitar 20 lainnya terluka dalam serangan artileri Israel yang menghantam tenda-tenda pengungsi di Kawasan Al-Sawarha, barat daya Kamp Nuseirat, Gaza tengah.
Di lokasi terpisah, tiga warga sipil lainnya tewas ketika sebuah drone Israel menargetkan sekelompok warga di Kawasan Ansar, sebelah barat Kota Gaza.
Klaim Militer Israel dan Data Korban Terkini
Militer Israel kemudian mengeluarkan pernyataan yang mengklaim bahwa serangan tersebut menargetkan “dua milisi Hamas” yang diduga sedang merencanakan operasi penembak jitu terhadap pasukan Israel di Gaza utara. Tidak ada bukti independen yang mendukung klaim tersebut, dan korban yang dilaporkan adalah warga sipil.
Laporan statistik harian tentang pelanggaran gencatan senjata mencatat bahwa total korban tewas sejak perjanjian ditandatangani kini mencapai 641 orang. Dari jumlah tersebut, 199 adalah anak-anak, 83 perempuan, dan 22 lansia — kelompok yang secara kolektif mencakup sekitar 46 persen dari total korban.
Gencatan Senjata yang Sering Dilanggar
Perjanjian gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, mengakhiri dua tahun perang genosida yang dilancarkan Israel dengan dukungan AS sejak 7 Oktober 2023. Perang tersebut telah menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur sipil Gaza, dengan biaya rekonstruksi yang diperkirakan PBB mencapai 70 miliar dolar AS.
Namun, sejak gencatan senjata diberlakukan, Israel secara konsisten dituding melakukan pelanggaran harian melalui serangan udara, tembakan artileri, dan operasi militer lainnya yang terus menelan korban jiwa warga sipil Palestina. Serangan terbaru ini menegaskan bahwa meskipun secara formal perang telah berakhir, kematian dan penderitaan bagi warga Gaza terus berlanjut.
Sumber: Al Jazeera





