TEHERAN, 8 Maret 2026 — Juru bicara Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini, menyatakan pada hari Sabtu bahwa angkatan bersenjata Iran siap untuk melanjutkan perang skala besar dengan intensitas yang sama selama hingga enam bulan ke depan. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers yang merinci operasi militer Iran selama minggu pertama konflik terbuka dengan Amerika Serikat dan Israel.
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” tegas Naeini, seraya menekankan kesiapan tempur dan kapabilitas militer Iran.
Rincian Serangan: Radar THAAD AS Jadi Target Utama
Dalam paparannya, Naeini mengungkapkan bahwa serangan Iran secara khusus menargetkan sistem radar canggih milik Amerika Serikat. Ia mengklaim bahwa tujuh radar canggih dari sistem pertahanan THAAD telah dihancurkan. Sistem THAAD dikenal sebagai salah satu sistem pertahanan udara dan intersepsi paling canggih yang beroperasi di kawasan.
“Serangan ini telah melumpuhkan sebagian besar ‘payung keamanan Amerika’,” kata Naeini, merujuk pada upaya AS untuk melindungi pangkalan-pangkalan dan aset-asetnya di Timur Tengah.
Rekam Jejak Serangan: 600 Rudal dan 2.600 Drone
Naeini merinci skala operasi militer Iran selama tujuh hari pertama perang:
Rudal: Iran telah meluncurkan 600 rudal dari berbagai jenis, termasuk rudal balistik serta rudal jelajah berbahan bakar cair dan padat.
Drone: Sebanyak 2.600 serangan drone dilancarkan terhadap sasaran-sasaran musuh.
Target: Lebih dari 200 lokasi dan fasilitas Amerika menjadi sasaran, selain target-target yang berada di wilayah Israel.
Ia menekankan bahwa volume tembakan yang dilancarkan Iran dalam tiga hari pertama perang ini setara dengan total volume tembakan selama perang 12 hari pada bulan Juni 2025, mengindikasikan eskalasi yang jauh lebih intens dalam konflik kali ini.
Pernyataan IRGC ini menegaskan tekad Iran untuk melanjutkan perang atrisi melawan koalisi AS-Israel, sambil menunjukkan kemampuan militernya untuk mempertahankan tingkat serangan yang tinggi dalam jangka waktu yang lama. Dengan perang yang memasuki minggu kedua, klaim ini menjadi sinyal bahwa konflik belum menunjukkan tanda-tanda akan segera mereda.
Dilansir dari: Al Jazeera





