Pada hari yang sama ketika Teheran menyatakan waktu dan tempat putaran kedua negosiasi dengan Amerika Serikat belum ditentukan, Presiden AS Donald Trump menerima Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih. Pertemuan tersebut menjadi panggung bagi Netanyahu untuk melobi agar agenda perundingan AS-Iran diperluas, melampaui isu nuklir, hingga mencakup program rudal dan pengaruh regional Iran.
Sementara itu, Teheran gencar melakukan manuver diplomatik tandingan. Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, tiba di Doha, Qatar, pada hari yang sama dan segera bertemu dengan Emir Qatar, Syekh Tamim bin Hamad Al Thani.
Lobi Netanyahu: Informasi Intelijen dan “Kebebasan Bertindak”
Netanyahu, yang tiba di Washington pada Rabu pagi (11/2) waktu setempat, langsung mengadakan pertemuan dengan utusan khusus AS Steve Witkoff dan menantu Presiden Trump, Jared Kushner — dua tokoh kunci di balik meja perundingan dengan Iran. Kantor Netanyahu menyatakan bahwa Witkoff dan Kushner melaporkan hasil putaran pertama di Muscat.
Menjelang pertemuan puncak, sumber Israel yang dikutip CNN mengungkapkan strategi utama Tel Aviv: “Israel ingin agar kesepakatan apa pun antara AS dan Iran tetap memberikan kebebasan bagi Israel untuk menyerang Iran secara militer.” Netanyahu dikabarkan akan menyodorkan informasi intelijen baru mengenai kapabilitas militer Iran untuk memperkuat argumentasinya.
Kekhawatiran Israel cukup spesifik: Washington dianggap mungkin tergoda untuk mencapai kesepakatan nuklir terbatas yang tidak mengatur program rudal balistik Iran atau dukungan Teheran kepada sekutunya di kawasan.
Peringatan dan Sinyal Keras dari Kedua Kubu
Trump, dalam wawancara dengan Axios, kembali mengulang ancamannya. Ia mengaku tengah mengkaji pengiriman gugus tugas kapal induk kedua sebagai bagian dari penguatan besar-besaran pasukan AS di dekat Iran. Ia menegaskan akan mengambil tindakan “sangat keras” jika Iran menolak kesepakatan.
Dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan bahwa “waktu dan tempat putaran kedua belum ditetapkan,” meredam pernyataan Trump sebelumnya yang menyebut perundingan akan berlangsung awal pekan depan.
Ali Larijani, dalam pernyataan tegasnya dari Muscat sebelum terbang ke Doha, memperingatkan AS agar tidak membiarkan Netanyahu “mendiktekan kerangka negosiasi nuklir” dan menuding adanya “peran destruktif Zionis.” Ia menilai masih terlalu dini menilai keseriusan AS, meskipun mengakui putaran pertama di Muscat “cukup baik dalam batas-batasnya.”
Jalan Buntu yang Dikenal dan Risiko Perang Lebih Luas
Perbedaan fundamental masih menjadi jurang pemisah: AS menuntut penghentian total pengayaan uranium dan pemindahan stok uranium diperkaya ke luar negeri, sementara Iran bersedia membatasi program nuklirnya namun menolak keras merundingkan program rudal dan pengaruh regionalnya.
Dengan Trump yang mengancam serangan, Iran yang berjanji membalas, dan Netanyahu yang mendorong opsi militer jika diplomasi gagal, kawasan Timur Tengah kembali berada di ujung tanduk. Pertemuan Trump-Netanyahu hari ini kemungkinan akan menentukan apakah perundingan yang baru saja dimulai itu akan diperluas, dipersempit, atau justru ditinggalkan untuk memberi jalan bagi konfrontasi bersenjata.
Dilansir dari: Al Jazeera.net





