YERUSALEM, 27 Maret 2026 — Matahari tepat berada di atas puncak menara-menara tua Kota Tua Yerusalem. Seharusnya, pada jam seperti ini, ribuan suara takbir bergema dari Masjidil Aqsa, memenuhi lorong-lorong batu yang telah menyaksikan sejarah seribu tahun. Seharusnya, para lelaki tua dengan tongkat di tangan, perempuan dengan anak-anak yang berlarian di pelataran, dan para pemuda yang datang dari jauh akan berdesakan di pintu-pintu gerbang, berbagi tempat untuk bersujud.
Tapi hari ini, untuk Jumat keempat berturut-turut, yang terdengar hanyalah derap sepatu bot tentara Israel di atas paving.
Sejak perang dengan Iran meletus pada 28 Februari, otoritas pendudukan menutup pintu-pintu Masjidil Aqsa. Alasan resminya: instruksi darurat militer, larangan berkumpul. Tapi bagi warga Yerusalem, ini bukan sekadar prosedur keamanan. Ini adalah pembungkaman yang tak pernah terjadi bahkan di masa-masa tergelap pendudukan.
Di Balik Gerbang yang Tertutup
Pagi itu, polisi Israel sudah berbaris sejak dini. Mereka memblokade setiap jalan menuju Kota Tua. Pintu-pintu gerbang yang biasanya ramai oleh peziarah kini hanya dibuka untuk tentara dan kendaraan lapis baja. Beberapa warga tua yang nekat mencoba mendekat segera digiring pergi.
Di Jalan Salahuddin, jalan utama yang menghubungkan Yerusalem Timur dengan pusat kota, sekelompok pria mulai menggelar sajadah. Mereka tidak bisa masuk ke masjid, tapi setidaknya mereka bisa salat di tempat yang paling dekat dengan kiblat mereka. Tapi polisi datang. Dengan tongkat dan suara bentakan, mereka membubarkan jemaah yang baru saja mulai membentuk saf. Beberapa orang dikejar hingga ke gang-gang kecil.
Namun, di Ras al-Amud, sebuah lingkungan di Silwan, cerita lain terjadi. Sekelompok pemuda dan orang tua berhasil melaksanakan salat Jumat di tengah jalan. Mereka tidak banyak—mungkin hanya beberapa puluh orang—tapi mereka berdiri tegak, menghadap ke arah masjid yang tertutup, dan mengangkat takbir. Polisi tidak sampai ke sana. Atau mungkin, untuk hari ini, mereka memilih berpaling.
Bukan Sekadar Masjid
Sejak 1967, belum pernah Aqsa ditutup selama sebulan penuh. Bahkan di masa-masa intifada, ketika bentrokan terjadi setiap hari, pintu-pintunya tetap terbuka bagi mereka yang ingin beribadah. Tapi kini, untuk pertama kalinya, bulan Ramadan berlalu tanpa tarawih. Idulfitri dirayakan tanpa jemaah di pelataran masjid. Dan Jumat keempat ini menjadi saksi bisu bahwa status quo yang dijaga selama puluhan tahun sedang diubah.
Tak hanya Aqsa yang terkunci. Gereja Makam Kudus, salah satu tempat paling suci bagi umat Kristen di dunia, juga ditutup. Tampaknya, bagi otoritas pendudukan, perang dengan Iran memberikan kesempatan untuk melakukan apa yang selama ini hanya mimpi bagi kelompok radikal: mengosongkan tempat-tempat suci dari umat beragama.
Antara Ketegasan dan Diam
Dunia Arab dan Islam mengeluarkan pernyataan kecaman. Qatar, Yordania, Turki, dan negara-negara lain menyebut penutupan Aqsa sebagai pelanggaran terhadap kebebasan beribadah dan perubahan ilegal terhadap status quo. Tapi kecaman itu tidak membuka pintu masjid. Mereka hanya menjadi kabar angin yang hilang di tengah gemuruh perang di Iran dan Lebanon.
Di dalam negeri, pemerintah Israel memperpanjang status darurat hingga pertengahan April. Selama itu, Aqsa akan tetap terkunci. Tidak ada yang tahu apakah setelah itu pintu-pintu akan dibuka kembali, atau apakah ini awal dari babak baru yang lebih gelap.
Doa yang Tak Sampai ke Langit?
Sore itu, saat matahari mulai condong ke barat, beberapa orang masih berkumpul di luar tembok Kota Tua. Mereka tidak bisa masuk, tidak bisa salat di halaman masjid, bahkan tidak bisa mendekat karena pagar beton dan kawat berduri. Tapi mereka masih berdoa—di trotoar, di gang-gang belakang, di ruang-ruang sempit di antara rumah yang saling berhimpitan.
Mungkin doa mereka tidak terdengar oleh polisi yang berjaga, tidak sampai ke kantor-kantor pemerintah di Tel Aviv, bahkan mungkin tidak sampai ke langit. Tapi di Yerusalem, setiap doa yang dipanjatkan di bawah bayang-bayang tembok pendudukan adalah bentuk perlawanan yang paling sunyi, tapi paling keras.
Hari ini, untuk Jumat keempat, Aqsa tetap sunyi. Tapi di luar pagar-pagar besi, di jalan-jalan yang dijaga ketat, suara takbir masih bergema. Pelan, tapi tidak pernah padam.
Sumber: Al Jazeera





