YERUSALEM – Di bulan suci Ramadan, ketika umat Islam di seluruh dunia berbondong-bondong memakmurkan masjid, langit Yerusalem justru bergema dengan suara sirene dan ketegangan. Untuk Jumat ketiga berturut-turut, otoritas pendudukan Israel mengumumkan bahwa tidak ada salat Jumat yang akan digelar di Masjidil Aqsa pada esok hari, Jumat (6/3/2026). Ini adalah pertama kalinya dalam ingatan baru-baru ini bahwa umat Islam dilarang beribadah di situs suci ketiga mereka selama tiga pekan berturut-turut di bulan Ramadan.
Keputusan ini, yang diumumkan pada Kamis (5/3) oleh juru bicara kepolisian Israel, secara tegas melarang “masuknya jemaah atau pengunjung ke semua tempat suci di dalam Kota Tua, termasuk Masjidil Aqsa.” Alasan resmi yang dikemukakan adalah status darurat yang masih berlangsung di Israel akibat perang dengan Iran, yang telah memicu rentetan serangan rudal balasan.
Enam Hari Sepi di Bulan Penuh Berkah
Ini adalah hari keenam berturut-turut Masjidil Aqsa dikosongkan dari para jemaah. Sejak serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu, otoritas Israel mengambil langkah drastis dengan menutup dan membersihkan kompleks masjid dari para jemaah yang sedang beribadah.
Pada dua Jumat pertama Ramadan (20 dan 27 Februari), pembatasan sudah mulai diberlakukan. Ribuan warga Palestina dari Yerusalem sendiri dilarang masuk, dan mereka yang dari Tepi Barat hanya diizinkan masuk dengan syarat yang sangat ketat: pria di atas 55 tahun dan wanita di atas 50 tahun, dengan kuota hanya 10.000 orang. Namun, Jumat ketiga ini, bahkan pintu bagi mereka pun tertutup rapat.
Ketika Perang Merenggut Ibadah
Keputusan ini merupakan pukulan telak bagi semangat keagamaan umat Islam Palestina. Ramadan adalah waktu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, dan beribadah di Masjidil Aqsa adalah dambaan setiap muslim. Namun, tahun ini, bulan suci itu diwarnai oleh duka karena ketidakhadiran dan larangan.
Seorang warga Yerusalem Timur yang diwawancarai Al Jazeera menggambarkan rasa frustrasinya. “Kami sudah terbiasa dengan pembatasan, tetapi mencegah salat Jumat selama tiga minggu berturut-turut di bulan Ramadan? Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Ini adalah hukuman kolektif yang menggunakan agama sebagai alat,” katanya.
Di seberang tembok pemisah, di rumah-rumah di Tepi Barat dan di kamp-kamp pengungsi, umat Islam hanya bisa memandang ke arah Yerusalem dengan rasa rindu yang tak terobati. Sementara di langit di atas mereka, pesawat-pesawat tempur masih berlalu lalang, mengingatkan bahwa perang antar negara telah secara diam-diam merenggut hak mereka yang paling mendasar: hak untuk beribadah dengan tenang di rumah Tuhan mereka.
Sumber: Al Jazeera





