TEHERAN – Di tengah gempuran yang terus berlanjut dan meningkatnya ketegangan di kawasan, sebuah suara dari jantung kekuasaan Iran angkat bicara. Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera, Brigadir Jenderal Hamid Reza Moqaddam Far, penasihat Komandan Garda Revolusi Iran (IRGC), menyatakan dengan tegas bahwa meskipun serangan musuh telah menewaskan pemimpin tertinggi mereka dan puluhan warga sipil, Iran justru semakin kuat dan siap untuk pertempuran jangka panjang.
“Berlawanan dengan Amerika Serikat dan Israel, Iran telah mempersiapkan diri untuk perang jangka panjang, dan waktu sepenuhnya berpihak pada keuntungan militer Iran,” kata Moqaddam Far. Pernyataan ini menjadi sinyal paling jelas bahwa Teheran tidak berniat menyerah atau mencari gencatan senjata cepat, melainkan bersiap untuk perang atrisi.
Kegagalan Musuh dan Kejutan Taktis
Moqaddam Far mengklaim bahwa meskipun Israel dan AS telah melakukan “kejahatan perang” – termasuk pembunuhan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, pembantaian siswi di Sekolah Minab, dan serangan ke area pemukiman – mereka gagal mencapai tujuan strategis mereka.
“Israel dan Amerika Serikat benar-benar terkejut oleh operasi militer Iran dan ketahanan sistem serta rakyat Iran,” tegasnya. Menurutnya, serangan balasan Iran telah terbukti sangat akurat. Tidak seperti “serangan buta” Israel yang sering mengenai bangunan kosong atau area sipil, rudal Iran, katanya, “mengenai target mana pun yang ingin mereka hancurkan” karena telah melumpuhkan sistem pertahanan musuh.
Ia bahkan mengklaim bahwa dalam beberapa hari terakhir, Iran telah berhasil menyerang Markas Besar Staf Umum Angkatan Darat Israel sebanyak tiga kali, selain pangkalan udara Israel dan radar strategis milik Israel dan AS. Klaim ini, meskipun tidak dapat diverifikasi secara independen, mencerminkan keyakinan Teheran akan kemampuan ofensifnya.
Rekayasa Balik dan Target Tingkat Tinggi
Salah satu pernyataan paling mencengangkan dari wawancara ini adalah pengakuan bahwa Iran telah berhasil menembak jatuh jet tempur F-15 Amerika dan menangkap drone musuh yang canggih.
“Rekayasa balik dari beberapa drone musuh dan teknologi mereka yang sangat canggih akan berubah menjadi mimpi buruk bagi mereka,” ancam Moqaddam Far. Ini mengindikasikan bahwa Iran tidak hanya bertahan, tetapi juga aktif berusaha meningkatkan kemampuan teknologinya di tengah perang.
Ia juga mengklaim bahwa salah satu serangan Iran berhasil menewaskan sejumlah pejabat penghubung senior di kantor Perdana Menteri Israel yang bertugas mengoordinasikan komunikasi dengan komando angkatan udara. Target ini, menurutnya, adalah bagian dari upaya Iran untuk melumpuhkan rantai komando musuh.
Duka yang Berlipat Ganda Menjadi Tekad
Menanggapi pertanyaan tentang dampak psikologis dari terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, Moqaddam Far membantah bahwa hal itu melemahkan semangat Iran. Sebaliknya, ia menggambarkan situasi sebaliknya.
“Rakyat Iran, yang sedang berduka atas kesyahidan pemimpin dan panutan mereka, telah memperoleh tekad dan keinginan seratus kali lipat untuk membalas dan melawan musuh,” ujarnya. “Apa yang diinginkan musuh – bahwa kematian pemimpin akan melumpuhkan rakyat Iran, sistem pemerintahan, dan militer – telah gagal total dan berubah menjadi kebalikannya, menjadi tekad yang lebih besar untuk membalas.”
Dengan pernyataan-pernyataan tegas ini, Teheran mengirimkan pesan yang jelas kepada lawan-lawannya dan dunia: mereka tidak gentar, dan perang ini, bagi mereka, baru saja dimulai.
Sumber: Al Jazeera





