WASHINGTON, 29 Maret 2026 — Di ruang sidang Gedung Putih, Presiden Donald Trump berbicara lantang tentang kemenangan. Rudal-rudalnya telah menghancurkan pertahanan udara Iran, drone-nya telah memburu para jenderal tertinggi di Teheran, dan kekuatan militernya—katanya—tak tertandingi. “Kita menang,” ucapnya berulang kali.
Tapi di luar jendela Gedung Putih, di perairan biru Selat Hormuz, kapal-kapal tanker minyak masih berlabuh ragu-ragu. Mereka tidak berani melintas. Karena di sanalah, di jalur air sempit yang menjadi urat nadi ekonomi global, perang yang sesungguhnya masih berkecamuk.
John Sopel, kolumnis The Independent, menulis sebuah analisis yang menusuk narasi kemenangan Trump. “Dia boleh mengklaim kemenangan sesuka hatinya,” tulis Sopel, “tapi dia tahu tidak ada kemenangan sejati selama kapal-kapal tanker masih takut melintasi Selat Hormuz.”
Perang yang Tak Terlihat
Selat Hormuz bukan sekadar titik di peta. Ini adalah jalan nadi yang mengalirkan seperlima minyak dunia ke pasar-pasar internasional. Selama hampir sebulan terakhir, jalur itu nyaris lumpuh. Kapal-kapal besar berjajar di pelabuhan-pelabuhan Dubai dan Fujairah, menunggu aba-aba yang tak kunjung datang.
Iran, yang secara militer mungkin kalah superioritas, menemukan senjata lain yang jauh lebih efektif: blokade. Dengan menanam ranjau, mengirim drone bunuh diri, dan mengancam setiap kapal yang melintas, Teheran telah mengubah selat itu menjadi perangkap mematikan. Bagi mereka, ini bukan tentang menghancurkan armada Amerika—mereka tahu itu mustahil. Tapi tentang membuat harga minyak melonjak, memicu inflasi di dalam negeri AS, dan membebani Trump dengan krisis ekonomi di tengah tahun pemilu.
Dan itu berhasil. Harga minyak mentah melambung 40 persen sejak perang dimulai. Pompa bensin di Amerika Serikat kini menunjukkan angka yang mengingatkan pada krisis energi 1970-an. Warga mulai bertanya: untuk apa perang ini? Apa gunanya menguasai langit Iran jika di rumah sendiri, warga kesulitan membeli bahan bakar?
Keraguan di Balik Pidato Trump
Sopel mencatat sesuatu yang aneh. Selama sebulan terakhir, nada suara Trump berubah-ubah seperti gelombang laut. Di satu hari, ia mengancam akan “menghapus” infrastruktur energi Iran. Di hari berikutnya, ia berbicara tentang negosiasi dan “peluang perdamaian.” Ia memberi tenggat waktu dua hari, lalu lima hari, lalu sepuluh hari. Setiap kali tenggat mendekati habis, ia memperpanjangnya.
Ini, kata Sopel, bukanlah bahasa seorang pemimpin yang yakin dengan kemenangannya. Ini adalah bahasa seorang presiden yang terjebak di antara dua pilihan yang sama-sama buruk: maju ke eskalasi yang lebih besar—yang bisa menjerumuskan AS ke dalam perang darat panjang seperti di Irak dan Afghanistan—atau mundur dan mengakui bahwa meskipun rudalnya hebat, ia gagal mengamankan jalur laut yang menjadi tujuan utama perang ini.
“Bahkan jika ia berhasil menghancurkan semua instalasi nuklir Iran, menghabisi setiap jenderal, dan membuat langit Iran sunyi dari pesawat tempur,” tulis Sopel, “selama kapal tanker masih takut melintas, selama harga BBM di dalam negeri terus meroket, maka warga Amerika tidak akan pernah percaya bahwa mereka menang.”
Kemenangan Palsu
Trump mungkin akan terus berdiri di podium, dengan latar belakang bendera Amerika, dan mengumumkan bahwa misi telah tercapai. Tapi di pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah, para komandan masih menghitung jumlah rudal yang harus mereka habiskan untuk melindungi kapal-kapal dagang. Di kantor-kantor pemerintah di Teluk, para menteri energi masih rapat membahas cara menstabilkan harga. Dan di Teheran, para pemimpin Iran mungkin tersenyum tipis. Mereka tahu bahwa dalam perang ini, yang dipertaruhkan bukan siapa yang menembak lebih dulu, tapi siapa yang lebih tahan lama.
Sopel mengakhiri tulisannya dengan skeptisisme yang menusuk: “Saya berharap prediksi Trump tentang perdamaian yang akan segera datang itu benar. Tapi sejauh ini, tidak ada bukti bahwa ia tahu bagaimana mengakhiri ini. Dan sampai dia menemukan caranya, perang ini akan terus berlangsung—tidak hanya di langit Iran, tapi juga di hati warga Amerika yang semakin ragu.”
Sumber: Al Jazeera





