DOHA, 16 Maret 2026 — Penutupan Selat Hormuz oleh Iran, yang memasuki minggu ketiga, telah memicu gelombang kejut di pasar energi global dan ekonomi dunia. Para ahli ekonomi memperingatkan bahwa dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan Teluk, tetapi juga akan merambat ke sektor-sektor lain seperti pangan, pupuk, dan teknologi.
Meskipun tidak secara resmi dan total dinyatakan ditutup, Iran secara efektif telah menutup jalur air strategis ini dengan menyerang kapal-kapal di selat sempit antara Iran dan Oman. Akibatnya, seperlima pasokan minyak dunia terhenti, menandai gangguan terbesar dalam sejarah.
Dampak pada Negara Teluk dan Irak
Dalam wawancara dengan Al Jazeera Mubasher, pakar hubungan internasional dan ekonomi politik, Mustafa Shoman, menjelaskan bahwa krisis ini berdampak negatif pada negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Meskipun memiliki jalur alternatif, kapasitas produksi mereka tidak dapat sepenuhnya menggantikan pasokan yang terhambat melalui Selat Hormuz.
Shoman juga memperingatkan bahwa Irak telah mengumumkan kemungkinan terhentinya produksi dari Ladang Minyak Basra dalam waktu dekat. Masalah utama, menurutnya, adalah penyimpanan. Jika kapasitas produksi tidak menemukan ruang penyimpanan yang memadai, hal ini akan berdampak negatif pada produsen.
Eropa dan Asia Timur Terpukul, China dan Rusia Diuntungkan
Negara-negara Uni Eropa dan Asia Timur diprediksi akan menghadapi lonjakan harga energi dan gas alam cair (LNG) yang dahsyat. Namun, China saat ini tidak menghadapi masalah berarti. Sementara itu, Rusia justru diuntungkan oleh krisis ini. “Eropa kembali ke pangkuan Rusia dalam hal gas dan minyak,” kata Shoman, terutama setelah AS memutuskan untuk mencabut sanksi terhadap minyak Rusia.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, pada hari Senin mengungkapkan bahwa ia telah membahas dengan PBB gagasan untuk memfasilitasi pengangkutan minyak dan gas melalui Selat Hormuz dengan menerapkan model kesepakatan yang memungkinkan ekspor biji-bijian dari Ukraina selama masa perang.
Dampak Berantai pada Sektor Lain
Peneliti ekonomi yang berspesialisasi dalam urusan minyak dan energi, Amer al-Shobaki, memperingatkan bahwa krisis ini akan berdampak besar pada ekonomi global, terutama karena harga minyak yang melonjak tajam dan diperkirakan akan terus berlanjut. Ia mencatat bahwa terminal ekspor minyak UEA diserang oleh Iran pada hari yang sama.
Shoman menambahkan bahwa krisis politik dan militer ini akan merembet ke sektor-sektor lain seperti pangan, obat-obatan, dan pupuk pertanian. Dampaknya akan terlihat dalam waktu dekat.
Keraguan Mitra AS untuk Bergabung dalam Pengamanan Selat
Di tengah krisis, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan pernyataan yang saling bertentangan tentang Selat Hormuz. Ia menyerukan negara-negara sekutu dan China untuk membantu mengamankan selat tersebut, setelah sebelumnya mengatakan bahwa Angkatan Laut AS akan segera mulai mengawal kapal tanker minyak melalui jalur vital ini.
Namun, seruan Trump tampaknya tidak mendapatkan tanggapan positif. Jepang dan Australia menyatakan tidak berniat mengirim kapal perang ke Timur Tengah untuk mengawal kapal melalui Selat Hormuz.
Shoman berpendapat bahwa Trump mencoba menginternasionalkan Selat Hormuz setelah krisis energi dan LNG global, dan sekarang beralih ke Uni Eropa. Namun, para pemimpin Eropa tahu bahwa Trump adalah “pribadi yang tidak bertanggung jawab dan kontradiktif dalam pernyataannya.”
Dengan dampak yang meluas dari penutupan de facto Selat Hormuz, dunia kini menanti apakah diplomasi dapat menemukan jalan keluar sebelum krisis ini semakin dalam dan menyebabkan kerusakan ekonomi yang tidak dapat diperbaiki.
Sumber: Al Jazeera





