TEHERAN, 6 April 2026 — Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan terbunuhnya Kepala Badan Intelijen, Mayor Jenderal Majid Khadimi, pada Senin dini hari akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Menurut pernyataan yang disiarkan kantor berita Tasnim, Khadimi—yang digambarkan sebagai “kepala intelijen Garda yang kuat dan terpelajar”—tewas setelah mengabdi hampir setengah abad di bidang keamanan, di mana ia memainkan peran penting dalam memperkuat keamanan Iran dan menggagalkan rencana musuh.
Menteri Pertahanan Israel, Yisrael Katz, mengonfirmasi pelaksanaan operasi pembunuhan di Teheran dan “likuidasi” kepala intelijen IRGC, serta mengancam akan terus menargetkan para pemimpin Iran “satu per satu.”
Penunjukan Baru-baru Ini
Koresponden Al Jazeera di Teheran, Omar Hawash, melaporkan bahwa Khadimi baru saja ditunjuk untuk posisinya baru-baru ini menyusul perang 12 hari terakhir, menggantikan pendahulunya Jenderal Muhammad Kazimi yang juga tewas terbunuh pada waktu itu.
Waktu penunjukan ini menambah dimensi tambahan pada operasi tersebut, karena terjadi pada fase sensitif penataan ulang aparat keamanan Iran dan upaya menutup celah-celah yang terungkap oleh operasi sebelumnya.
Perkembangan ini terjadi hanya sekitar dua minggu setelah Israel mengumumkan pembunuhan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani, Komandan Pasukan Mobilisasi Populer Iran (Basij) Gholam Reza Soleimani, dan Menteri Intelijen Iran Ismail Khatib.
Analisis tentang Sifat Pelanggaran Keamanan
Dalam analisisnya, koresponden Al Jazeera menjelaskan bahwa pembunuhan ini menegaskan adanya “pelanggaran keamanan yang jelas” di aparat negara. Sifat pelanggaran ini masih belum jelas; tidak dapat dipastikan apakah itu terjadi melalui “teknologi” dengan melacak dan memantau lokasi kepala intelijen, atau apakah itu dihasilkan dari “pelanggaran internal manusia” di dalam badan intelijen itu sendiri.
Hawash menyoroti poin mendasar yang menimbulkan pertanyaan di Teheran: bahwa meskipun terjadi pembunuhan keamanan beruntun yang menargetkan puncak piramida kepemimpinan, pemerintah Iran hingga saat ini belum mengumumkan penangkapan siapa pun dari dalam aparat sistem atau badan intelijen itu sendiri, atau bahkan dari lingkaran dekat pengambil keputusan politik, militer, dan keamanan.
Koresponden tersebut mencatat bahwa semua yang diumumkan secara resmi hanya sebatas penangkapan “sel-sel tidur” atau “agen” di berbagai tempat dengan tuduhan mata-mata untuk Mossad, tetapi “pelanggaran internal” yang potensial tetap menjadi misteri yang belum terjawab oleh penangkapan yang diumumkan hingga saat ini. Hal ini menempatkan aparat keamanan dihadapkan pada tantangan ganda terkait kredibilitas investigasi dan kemampuannya mengungkap celah-celah dari dalam institusi itu sendiri.
Dampak Lapangan dan Pengejaran Internal
Terlepas dari besarnya kerugian, koresponden Al Jazeera mengutip para ahli keamanan bahwa pembunuhan beruntun ini sejauh ini belum secara fundamental mempengaruhi “jalannya operasi militer” yang dikelola Teheran terhadap kepentingan Amerika dan Israel. Namun, peran badan intelijen yang dipimpin Khadimi tetap sangat penting dalam memberikan informasi dan koordinat yang tepat kepada angkatan bersenjata untuk menargetkan jantung wilayah Israel.
Dalam konteks terkait, Hawash menunjukkan bahwa Teheran hampir setiap hari mengumumkan penangkapan sel dan informan yang dituduh mengirimkan koordinat lokasi sensitif ke Mossad dan pihak asing, dalam upaya mengamankan front dalam negeri dan mencegah “destabilisasi” yang menjadi target dari pembunuhan ini.
Pada 17 Maret lalu, militer Israel mengumumkan keberhasilannya membunuh Larijani dan Soleimani dalam serangan di ibu kota Iran, sementara kantor Netanyahu merilis foto dirinya yang mengesahkan operasi pembunuhan di Iran.
Sumber: Al Jazeera





