GAZA, 6 April 2026 — Di tengah sempitnya tenda-tenda pengungsi, penderitaan warga yang mengungsi di Khan Younis, Gaza selatan, tidak hanya terbatas pada kekurangan makanan dan air, tetapi juga meluas hingga menghilangkan hak dasar mereka atas pengobatan. Akibatnya, penyakit kronis dan cedera berubah menjadi hukuman mati yang lambat dan menyiksa.
Puncak tragedi ini tergambar dalam kisah Raed al-Maridi, seorang korban luka yang terbaring di tenda reyot dengan tubuh kurus yang dilemah oleh kejang-kejang hebat yang tidak ada obatnya. Al-Maridi juga kesulitan menelan makanan dan air secara normal, yang menyebabkan penurunan berat badan drastis. Istrinya menceritakan penderitaannya dalam mencari obat yang dapat meringankan rasa sakit suaminya, terutama setelah obat saraf yang sangat dibutuhkan—bersama dengan yang lainnya—hilang.
“Dia semakin memburuk dari hari ke hari karena tidak ada pengobatan,” kata istrinya, menggambarkan kondisinya dengan getir. Ia hanya bisa menatap suaminya dengan ketidakberdayaan total di tengah ketiadaan obat-obatan yang dulu mengendalikan kondisi kesehatannya.
Seringkali, perjalanan istri ini—dan para keluarga pasien lainnya di Gaza—berakhir di depan rak-rak apotek yang kosong. Hal ini terkadang memaksa apoteker untuk mengarahkan pasien pada alternatif yang tidak tepat, atau kembali ke dokter untuk mencoba menemukan formula pengobatan yang mirip dengan yang hilang.
Pengobatan Penyakit Kronis
Kisah Nasser al-Aqqad, yang berusia lima puluhan tahun, mencerminkan penderitaan lain bagi penderita penyakit kronis di Gaza. Ia menderita penyakit tiroid dan terpaksa menerima dosis yang jauh lebih rendah dari yang dibutuhkan tubuhnya. Ia mengambil dosis 50 miligram sebagai pengganti dosis 100 dan 200 miligram yang hilang, hanya untuk tetap bertahan hidup.
Secara medis, Dr. Ahmed Abu Taha, kepala departemen endokrinologi di Kompleks Nasser, menegaskan bahwa penghentian distribusi obat-obatan kronis di pusat-pusat perawatan primer telah meningkatkan beban pasien dan membuat mereka rentan terhadap komplikasi serius.
Statistik resmi dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bencana nyata: 46 persen dari item obat-obatan esensial (sekitar 285 item) sama sekali tidak tersedia di wilayah tersebut, sementara 66 persen dari persediaan medis yang diperlukan telah habis, membuat rumah sakit dan pusat medis tidak mampu memberikan tingkat layanan minimal.
Krisis obat-obatan ini merupakan bagian dari perang total yang dilancarkan Israel terhadap Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023. Menurut laporan Kementerian Kesehatan Palestina, perang tersebut telah mengakibatkan lebih dari 72.000 warga Palestina tewas dan lebih dari 172.000 lainnya terluka, sebagian besar dari mereka adalah anak-anak dan perempuan. Di tengah penargetan sistem kesehatan, ribuan pasien pengungsi di Gaza menghadapi bahaya yang mengancam jiwa akibat kelangkaan obat-obatan.
Sumber: Al Jazeera





