RAMALLAH, 9 Mai 2026 — Sebuah laporan PBB mengungkap meningkatnya gelombang pengusiran warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki, seiring dengan perluasan permukiman ilegal dan pembongkaran rumah oleh pendudukan Israel.
Farhan Haq, Wakil Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, dalam pernyataan persnya mengutip laporan Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) yang menyatakan bahwa hampir 40.000 orang telah mengungsi di seluruh Tepi Barat sejak awal tahun lalu (2025) hingga saat ini, akibat praktik-praktik Israel.
Ia menjelaskan bahwa operasi pembongkaran rumah yang dilakukan oleh pemukim Israel di Tepi Barat selama minggu pertama bulan Mei telah menyebabkan pengungsian 42 warga Palestina, termasuk 24 anak-anak. Ia juga menunjukkan bahwa tentara Israel dan pemukim bersenjata, yang melancarkan serangan di bawah perlindungan militer, terus melakukan pelanggaran tanpa henti di semua kota di Tepi Barat, dan menegaskan bahwa serangan pemukim menargetkan “warga Palestina dan properti mereka, yang merupakan penduduk asli wilayah tersebut.”
Pada bulan Maret lalu, sebuah laporan dari Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia mengungkapkan bahwa lebih dari 36.000 warga Palestina telah mengungsi selama satu tahun akibat percepatan Israel dalam operasi ekspansi permukiman dan meningkatnya kekerasan oleh pasukan keamanan Israel dan para pemukim.
Laporan PBB tersebut, yang mencakup periode hingga 12 bulan hingga 31 Oktober 2025, mendokumentasikan 1.732 insiden kekerasan oleh pemukim yang mengakibatkan korban luka atau kerusakan properti.
Pelanggaran Berkelanjutan
Seiring dengan perang genosida di Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023 yang berlangsung selama dua tahun, Israel telah meningkatkan langkah-langkahnya yang bertujuan untuk mencaplok Tepi Barat, terutama melalui pembongkaran rumah-rumah Palestina, pengusiran mereka, dan perluasan permukiman. Hal ini terjadi di tengah kecaman Arab dan internasional.
Selain itu, pendudukan telah meningkatkan operasinya di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, melalui penggerebekan, penangkapan, tembakan, dan penggunaan kekuatan berlebihan, sejalan dengan meningkatnya serangan yang dilakukan oleh para pemukim terhadap warga Palestina dan properti mereka.
Sejak Oktober 2023, serangan tentara Israel dan pemukim telah mengakibatkan sedikitnya 1.155 warga Palestina tewas sebagai syahid, sekitar 11.750 lainnya terluka, dan hampir 22.000 orang ditangkap, menurut data resmi Palestina.
Jumlah pemukim di Tepi Barat pada akhir tahun 2024 mencapai sekitar 770.000 orang, tersebar di lebih dari 180 permukiman dan 256 pos terdepan pemukiman, menurut laporan Palestina.
Sumber: Al Jazeera





