YERUSALEM, 28 Maret 2026 — Malam Jumat di Tepi Barat biasanya adalah waktu untuk berkumpul, berbagi cerita, dan menyiapkan diri untuk hari suci. Tapi Jumat kemarin berbeda. Darah kembali mengalir di dua kamp pengungsi yang hanya berjarak beberapa kilometer. Dan ketika matahari terbenam, tiga keluarga sudah berkabung.
Peluru di Perut, Nyawa di Ujung Jalan
Insiden pertama terjadi di Kamp Qalandia, tepat di utara Yerusalem. Seperti biasa, tentara Israel masuk dengan kendaraan lapis baja dan suara tembakan gas air mata yang memecah udara sore. Dua pemuda, Sufyan Abu Leil dan Mustafa Hamad, terkena peluru tajam. Mereka sempat dilarikan ke rumah sakit, tapi nyawa mereka tidak tertolong. Keduanya gugur dalam usia yang masih terlalu muda untuk memahami mengapa tanah kelahiran mereka harus dibayar dengan darah.
Beberapa jam kemudian, kabar buruk datang dari selatan. Di Kamp Al-Dheisheh, Betlehem, seorang anak laki-laki bernama Adham Dahman, baru 15 tahun, tertembak di perutnya saat tentara menggerebek kamp. Peluru itu merobek usus dan menghancurkan masa depannya. Di rumah sakit, para dokter berusaha mati-matian. Tapi luka itu terlalu dalam. Adham menyusul dua pemuda yang gugur lebih dulu.
Dalam satu hari, tiga nyawa melayang. Tiga keluarga kehilangan putra-putra mereka. Dan deretan nama itu akan terus bertambah, seperti yang sudah terjadi sejak 7 Oktober 2023. Kini, catatan kematian di Tepi Barat telah mencapai 1.138 orang. Ribuan lainnya luka-luka. Hampir 22.000 ditahan di penjara-penjara Israel. Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Mereka adalah ayah, anak, saudara, dan tetangga yang tidak akan pernah pulang.
Malam di Batan Al-Hawa: Ketika Rumah Bukan Lagi Milik Sendiri
Di Silwan, sebuah lingkungan tua di Yerusalem Timur, cerita yang lebih kelam sedang berlangsung. Di sinilah letak Batan Al-Hawa, kawasan padat yang selama bertahun-tahun menjadi incaran kelompok-kelompok pemukim. Pekan lalu, 15 keluarga diusir dari rumah-rumah mereka. Hari-hari sebelumnya, 13 apartemen lagi diserobot oleh pemukim Israel.
Mereka datang dengan surat pengadilan yang klaimnya diragukan. Mereka datang dengan polisi yang menjaga pintu-pintu. Mereka datang dengan ambisi untuk mengubah Yerusalem menjadi kota tanpa Palestina.
Kementerian Luar Negeri Palestina memperingatkan bahwa lebih dari 200 keluarga, sekitar 900 orang, kini menghadapi ancaman pengusiran yang sama. Mereka adalah penduduk asli yang nenek moyangnya sudah tinggal di tanah ini jauh sebelum negara Israel berdiri. Kini, mereka diusir oleh surat-surat yang ditulis dalam bahasa Ibrani, oleh pengadilan yang tidak pernah mengakui hak mereka.
Di Qalandia, yang tidak jauh dari Silwan, tujuh rumah lainnya mendapat perintah pembongkaran langsung—tanpa banding, tanpa ampun.
Skenario yang Dikenal, Tujuan yang Jelas
Bagi warga Yerusalem, ini bukan pertama kalinya mereka melihat pemandangan seperti ini. Sejak puluhan tahun lalu, kelompok-kelompok pemukim dengan dukungan pemerintah Israel terus melakukan apa yang disebut sebagai “Yudaisasi” kota suci itu. Tapi dalam beberapa minggu terakhir, langkah mereka semakin cepat, semakin agresif, dan semakin terang-terangan.
Perang di Gaza dan Iran memberi mereka ruang. Ketika dunia sibuk mengikuti rudal dan drone, mereka dengan tenang mengambil alih rumah demi rumah. Ketika televisi asing menyorot ledakan di Beirut dan Teheran, mereka membongkar atap-atap rumah di Silwan dan Qalandia.
Tujuannya jelas: mengubah komposisi demografi Yerusalem. Membuat kota itu se-Yahudi mungkin, dan menghapus jejak-jejak Palestina satu per satu.
Seruan yang Tenggelam
Kementerian Luar Negeri Palestina sudah berteriak. Mereka meminta masyarakat internasional bertindak. Mereka meminta perlindungan. Mereka meminta negara-negara besar untuk tidak hanya fokus pada perang di Iran dan Lebanon, tapi juga melihat apa yang terjadi di Yerusalem.
Tapi suara mereka tenggelam. Diplomasi dunia sedang sibuk dengan hal lain. Amerika Serikat dan Israel sedang merancang serangan berikutnya ke Iran. Eropa khawatir dengan harga minyak yang melambung. Rusia dan China bermain catur geopolitik.
Sementara itu, di Batan Al-Hawa, seorang nenek duduk di trotoar di depan rumah yang sudah bukan miliknya. Di Qalandia, seorang ibu memeluk baju anaknya yang baru saja syahid. Di Kamp Al-Dheisheh, ayah Adham masih menunggu jenazah putranya dimandikan.
Yang Tersisa Hanyalah Kesaksian
Mungkin tidak akan ada yang datang untuk menyelamatkan mereka. Mungkin perang besar di Iran akan terus menjadi berita utama. Tapi di Yerusalem dan Tepi Barat, rakyat Palestina tahu satu hal: mereka tidak akan pergi. Mereka akan terus bertahan meskipun rumah mereka dirampas, meskipun anak-anak mereka gugur, meskipun dunia memalingkan muka.
Karena bagi mereka, meninggalkan tanah ini berarti meninggalkan segalanya. Dan itu adalah harga yang tidak akan pernah mereka bayar.
Sumber: Al Jazeera





