GAZA, 24 Februari 2026 — Penderitaan warga Palestina di Jalur Gaza mencapai lapisan baru. Hujan deras yang mengguyur wilayah selatan, terutama area Al-Mawasi di Khan Younis, menyebabkan banjir yang merendam tenda-tenda pengungsi. Tim pertahanan sipil Gaza bekerja keras menyelamatkan keluarga-keluarga yang terdampar, namun kewalahan menghadapi besarnya kebutuhan.
Koresponden Al Jazeera dari Kamp Nuseirat melaporkan bahwa warga kamp masih berjibaku dengan genangan air. Mereka bahkan tidak dapat menyantap sahur dengan tenang karena sibuk menguras air dari tenda mereka. “Permintaan bantuan kepada pertahanan sipil jauh melebihi kapasitas mereka untuk merespons,” lapor sang koresponden, menggambarkan krisis kemanusiaan yang semakin dalam.
Serangan dan Ancaman Baru di Tengah Bencana Alam
Di tengah bencana alam yang melanda, mesin perang Israel tak juga berhenti. Sebuah sumber di Rumah Sakit Al-Ma’madani (Baptis) melaporkan dua orang terluka akibat tembakan Israel di luar zona penyebaran pasukan di Lingkungan Syuja’iyya, Kota Gaza. Serangan udara dan artileri juga dilaporkan menyasar wilayah timur Kota Khan Younis, barat Kota Rafah, dan timur Kamp Bureij.
Ancaman yang lebih besar datang dari pernyataan politik. Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, dengan gamblang menyatakan bahwa pemerintahannya “belum mengesampingkan tujuan untuk menghancurkan Hamas.” Ia bahkan mengancam akan memberikan ultimatum kepada Hamas untuk menyerahkan senjata, markas, dan terowongan mereka. Jika tidak, Israel akan kembali menduduki area baru di Gaza, dan pada akhirnya, “Israel akan menduduki seluruh Jalur Gaza dan mendirikan permukiman Yahudi di sana.” Semua ini, menurutnya, akan dikoordinasikan dengan Amerika Serikat.
Peringatan PBB: “Kekhawatiran Pembersihan Etnis”
Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Türk, mengeluarkan peringatan yang sangat serius. Ia menyatakan bahwa situasi di Gaza “masih menjadi bencana” dan bantuan kemanusiaan yang diizinkan masuk “tidaklah cukup.” Yang paling mengkhawatirkan, ia mengungkapkan “kekhawatiran tentang kemungkinan terjadinya pembersihan etnis, baik di Gaza maupun Tepi Barat.”
Türk menjelaskan bahwa warga Palestina terus dibunuh oleh tembakan pasukan pendudukan, serta menderita kelaparan dan penyakit. Ia menegaskan bahwa satu-satunya solusi berkelanjutan adalah solusi dua negara, di mana kedua bangsa dapat hidup berdampingan dengan martabat dan hak yang setara, sesuai dengan resolusi PBB dan hukum internasional.
Sementara dunia menyaksikan, rakyat Gaza bertarung melawan dua musuh sekaligus: amukan alam dan mesin perang yang tak kenal ampun. Di tengah hujan yang mengguyur dan ancaman pendudukan baru, satu pertanyaan menggantung: akankah komunitas internasional bertindak sebelum terlambat?
Sumber: Al Jazeera





