LONDON, 21 Maret 2026 — The Times melaporkan dalam analisis mendalam tentang skenario perang darat melawan Iran bahwa pemerintahan Presiden AS Donald Trump, yang memulai perang sebagai “jalan-jalan singkat,” kini secara serius mempertimbangkan opsi “pasukan di darat.” Pergeseran ini terjadi karena kebuntuan dalam penyelesaian melalui serangan udara, penutupan berkelanjutan Selat Hormuz, dan meningkatnya serangan Iran terhadap fasilitas energi di Teluk.
Laporan yang ditulis oleh Richard Spencer, Michael Evans, dan Charlie Parker ini mencatat bahwa pergeseran menuju opsi darat terjadi setelah kegagalan bertumpu pada serangan udara saja, meskipun Trump telah mengklaim telah menghancurkan kemampuan rudal Iran secara efektif.
Kenyataan di Lapangan dan Evaluasi Ulang
Realitas di lapangan, menurut laporan tersebut, menunjukkan bahwa “Iran tidak akan menyerah tanpa perlawanan,” mendorong Washington untuk mengevaluasi ulang opsi-opsinya, terutama dengan pengerahan unit-unit marinir AS ke kawasan tersebut.
Laporan ini membahas beberapa skenario untuk serangan darat jika Washington memutuskan untuk melakukannya.
Skenario 1: Merebut Pulau Minyak Kharg
Salah satu skenario utama adalah merebut Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran. Penguasaan atas pulau ini dapat memberi Washington alat tawar yang kuat, yang dapat digunakan sebagai imbalan untuk membuka kembali selat tersebut. Namun, laporan tersebut menggambarkan operasi semacam itu sebagai “yang paling berani dan berisiko” dan mungkin memerlukan pasukan yang jauh lebih besar daripada yang tersedia saat ini.
Skenario 2: Merebut Tiga Pulau UEA
Skenario lain adalah merebut tiga pulau UEA (Abu Musa, Tunb Besar, Tunb Kecil) yang terletak strategis di mulut Selat Hormuz. Para ahli berpendapat bahwa menguasai pulau-pulau ini mungkin relatif lebih mudah, tetapi tidak cukup dengan sendirinya untuk mengamankan pelayaran. Serangan terhadap ketiga pulau ini dapat digabungkan dengan serangan lain terhadap Pulau Qeshm yang lebih besar, yang terletak di dekat Iran dan menjadi tempat pangkalan rudal bawah tanah.
Skenario 3: Serangan Terbatas di Pantai
Laporan tersebut juga membahas opsi untuk melaksanakan serangan laut dan amfibi terbatas yang menargetkan kemampuan Iran di pantai, termasuk perahu cepat, gudang drone, dan ranjau laut. Namun, kekhawatiran utama dari opsi ini adalah “opsi nuklir tradisional Iran” berupa penempatan ranjau, yang dapat melumpuhkan navigasi di selat secara permanen.
Skenario 4: Invasi Darat Terbatas atau Luas
Skenario paling berbahaya, menurut laporan tersebut, adalah invasi darat terbatas atau luas di sepanjang pantai Iran, di mana pasukan AS dapat mendirikan pangkalan-pangkalan kecil untuk melancarkan operasi lanjutan. Analis militer Francis Tusa memperingatkan bahwa opsi ini dapat menyeret Washington ke dalam rawa militer, menyamakan operasi potensial dengan “Gallipoli baru” — merujuk pada pertempuran Perang Dunia I di mana pasukan Sekutu menderita kekalahan telak di tangan pasukan Ottoman. Tusa menambahkan bahwa menguasai pantai mungkin memerlukan “ratusan ribu tentara.”
Opsi Front Utara melalui Kurdi
Laporan ini juga menyentuh kemungkinan membuka front utara melalui Kurdi. Namun, opsi ini menghadapi keberatan signifikan karena persenjataan kelompok Kurdi yang lemah dan kekhawatiran mereka akan respons langsung Iran, menjadikannya opsi yang tidak layak tanpa intervensi AS yang luas.
Kesimpulan: Risiko Eskalasi Lebih Besar
Semua skenario ini, meskipun beragam, memiliki dilema mendasar yang sama: mereka tidak menjamin berakhirnya perang, tetapi justru dapat membuka pintu bagi eskalasi yang lebih besar. Michael Stephens, spesialis keamanan Teluk di Royal United Services Institute, meringkas kebuntuan ini dengan menekankan bahwa cara Iran mengelola konflik membuatnya sangat sulit untuk memperkirakan biaya tambahan yang akan membuat musuhnya membayar dalam serangan baru apa pun.
Sumber: Al Jazeera & The Times





