Salah satu faktor terpenting yang berperan besar dalam mempengaruhi proses tabligh ar-Risalah (penyampaian dakwah), mengajak manusia ke dalam agama ini agar mereka mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, adalah keteladanan yang harus melekat dalam diri seorang da’i, perilaku dan ucapan yang terpuji, sifatnya yang mulia, serta akhlaknya yang bersih. Semua itu adalah wajah Islam yang mewujud pada diri sang da’i. Sehingga, manusia dengan mudah menerima dan kembali kepada agama ini, karena adanya keteladanan. Dengan demikian, perilaku dan akhlak yang baik memiliki pengaruh yang lebih kuat daripada kata-kata.
Agama Islam menyebar ke setiap pelosok bumi ini melalui keteladanan yang dipentaskan oleh kaum Muslimun. Itulah yang menarik hati orang-orang non-muslim, sehingga mereka memeluk agama ini. Maka, Qudwah Hasanah yang ditampakkan oleh seorang da’i dalam sejarah kehidupannya, pada hakikatnya adalah dakwah paling konkret. Yang membuat mereka yang berada di luar Islam, yang memiliki fitrah yang bersih dan akal yang sehat, merasakan bahwa Islam adalah agama yang hak dari sisi Allah Azza wa Jalla
Kita dapat melihat firman Allah swt. yang terkait dengan Uswah Hasanah berikut ini.
قَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ٢١
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗۚ اِذْ قَالُوْا لِقَوْمِهِمْ اِنَّا بُرَءٰۤؤُا مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِۖ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاۤءُ اَبَدًا حَتّٰى تُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَحْدَهٗٓ اِلَّا قَوْلَ اِبْرٰهِيْمَ لِاَبِيْهِ لَاَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآ اَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ شَيْءٍۗ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَاِلَيْكَ اَنَبْنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ ٤
Sungguh, benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu pada (diri) Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya ketika mereka berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Kami mengingkari (kekufuran)-mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” Akan tetapi, (janganlah engkau teladani) perkataan Ibrahim kepada ayahnya, “Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu, tetapi aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu.” (Ibrahim berkata,) “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal, hanya kepada Engkau kami bertobat, dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. (QS. Al-Mumtahanah: 4)
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَاۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ٥ لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْهِمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُو اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّ فَاِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُࣖ ٦
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Ampunilah kami, ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” Sungguh pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) benar-benar terdapat suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari Kemudian. Siapa yang berpaling, sesungguhnya Allah, Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. (QS. Al-Mumtahanah: 5-6)
Ibnu Hajar berkata, “Para pemimpin yang datang setelah Rasulullah saw. senantiasa meminta saran dan pendapat dari para ulama yang dapat dipercaya dalam berbagai masalah yang mubah, agar mereka dapat mengaplikasikan apa yang mudah bagi mereka. Tapi apabila Al-Qur’an dan Sunah Rasulullah saw telah menjelaskan tentang hal itu. maka tak ada jalan lain bagi mereka kecuali meneladani Rasulullah saw (Fathul Baari 13/351)
Sebagian mereka berkata, “Bila kami tergelincir di atas jalan yang kami lalui, dan engkau adalah pemimpin kami, maka cukuplah mengenangmu sebagai kebaikan yang meraih tangan kami. Bila kamı tersesat di atas jalan van kami lalui sedang kami tak mendaparkan petunjuk, maka cukuplah bagi kami cahaya wajahmu sebagai petunjuk.”
Dari Wahab bin Munabbih berkata, “Salah seorang darı Bani Israil dikenal dengan kekuasaannya memaksa manusia untuk memakan daging babı. Perintah itu terus berjalan hingga terdengar di telinga seorang Abid dari kalangan mereka. la berkata, ‘Abid itu pun kemudian diletakkan di hadapan manusia. Seorang petugas lalu berkata padanya, Saya akan menyembelih untukmu seekor anak domba, apabila penguasa itu menyuruhnmu untuk memakannya, maka makanlah!! Tatkala penguasa itu memanggilnya dan menyuruh abid tersebut untuk memakan daging itu, ia pun menolak. Penguasa itu lalu berkata, Keluarkan orang itu dan penggal batang lehernya!” Petugas itu kemudian mengeluarkan abid tersebut lalu berkata padanya, “Mengapa engkau tidak memakan daging itu? Bukankah telah kukatakan padamu bahwa itu hanyalah daging domba yang halal dimakan?” Abid itu menjawab, ‘Semua orang menyaksikan apa yang saya lakukan, dan saya tidak ingin mereka mengikutiku dalam kemaksiatan. Lalu abid itu pun dihukum bunuh.” (Al-Fawaaid: 56)
Keteladanan yang diberikan akan memberikan banyak manfaat. Rasulullah saw. adalah contoh paling agung dalam keteladanan akhlak, perilaku, ucapan, dan seluruh perbuatannya. Setiap muslim yang senantiasa merasakan bahwa ia berada dalam pengawasan Allah Azza wa Jalla dalam beribadah kepada-Nya, bermuamalah dan melakukan apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya mereka telah meneladanı Rasulullah saw.
Bukti kecintaan kita kepada Rasulullah saw. adalah dengan meneladanınya. Jika seorang muslim tampak dalam segala perilakunya ber-qudwah kepada Rasulullah saw., maka orang lain akan memper-cayainya dan menjadikannya teladan yang layak untuk diikuti. Seorang Muslim yang mengikuti manhaj Rasulullah saw. dan jejak Salafush shalih, akan menemukan dalam dirinya berada dalam puncak kebahagiaan. karena ia menyaksikan dirinya berada di atas jalan kebenaran dan hidayah Allah, melihat dengan cahaya-Nya, dan berjalan di atas jalan yang lurus.
Setiap perilaku orang yang menyandang predikat ulama, hendaknya menjadi contoh di tengah manusia. Karena mereka menjadikannya sebagai teladan yang patut digugu dan ditiru. Melaksanakan apa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw. adalah juga ber-uswah kepadanya.
Kita dapat meraih kesuksesan dalam proses tarbiyah (pendidikan) melalui uswah hasanah (teladan yang baik). Bersikap kaku dan ekstrem tidak termasuk ber-qudwah kepada Rasulullah saw. Ber-qudwah dalam agama ini, yaitu dengan melihat manusia yang di atas kita dalam urusan akhirat, dan dalam urusan dunia, melihat mereka yang berada di bawah kita. Barangsiapa yang melakukan kebaikan lalu orang lain meng-ikutinya dan menjadikannya teladan, maka baginya pahala dan pahala orang yang mengerjakan kebaikan tersebut.
Sumber : Kekuatan Sang Murabbi, Prof. Dr. Taufik Yusuf Al-Wa’iy, Al-Itishom Cahaya umat, 2003 Halaman 25-28.



