Apa yang dimulai sebagai serangan kejutan pada Sabtu pagi telah berubah menjadi baku hantam militer berskala penuh yang mengguncang Timur Tengah. Militer Israel mengklaim telah melancarkan serangan udara terbesar dalam sejarah angkatan udaranya, sementara Iran untuk pertama kalinya mengerahkan rudal hipersonik “Fattah” ke jantung wilayah lawan. Berikut adalah narasi perkembangan terkini hingga Sabtu malam, 28 Februari 2026.
“Gelombang Terbesar” Angkatan Udara Israel
Di satu sisi medan, militer Israel mengumumkan bahwa 200 pesawat tempur berpartisipasi dalam serangan gelombang baru yang menyasar sistem pertahanan udara strategis Iran. Dalam sebuah pernyataan dramatis, juru bicara militer Israel menyebut operasi ini sebagai “yang terbesar dalam sejarah Angkatan Udara Israel.”
Serangan ini diklaim telah menghantam 500 target di Iran, termasuk sistem pertahanan udara dan platform peluncuran rudal. Kepala Staf IDF, Letjen Eyal Zamir, menggambarkan operasi ini sebagai “kampanye yang menentukan, menentukan nasib, dan belum pernah terjadi sebelumnya untuk menghancurkan kemampuan rezim Iran.” Tujuan awal serangan ini, menurut pernyataan resmi, adalah untuk “memperluas kebebasan bertindak Angkatan Udara” dengan melumpuhkan pertahanan udara Iran.
Di dalam negeri Israel, dampaknya juga terasa. Polisi Israel melaporkan adanya kerusakan material akibat jatuhnya puing-puing proyektil di wilayah pusat Israel. Lebih mencengangkan, Al Jazeera mencatat bahwa sirine peringatan telah berbunyi sebanyak 528 kali di berbagai wilayah Israel akibat rentetan serangan rudal balasan dari Iran. Ini adalah indikator paling jelas tentang intensitas serangan balasan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Fattah” dan Ancaman Teknologi Baru Iran
Di tengah gempuran, Teheran tidak tinggal diam. Televisi pemerintah Iran mengumumkan bahwa angkatan bersenjatanya telah meluncurkan rudal hipersonik “Fattah” yang ditargetkan pada “fasilitas-fasilitas musuh.” Rudal ini, yang selama ini menjadi momok bagi sistem pertahanan udara lawan karena kecepatan dan kemampuan manuvernya, kini dikerahkan untuk pertama kalinya dalam konflik terbuka.
Seorang penasihat komandan Garda Revolusi Iran, Ibrahim Jabari, mengeluarkan peringatan keras. Ia mengaku Teheran memiliki peralatan canggih yang memungkinkan mereka bertempur selama bertahun-tahun. “Pada awal perang, kami meluncurkan rudal-rudal lama kami. Nanti, kami akan menggunakan rudal yang lebih canggih,” ancamnya, secara terbuka menantang Presiden AS Donald Trump.
Pernyataan serupa datang dari juru bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya, yang mengumumkan bahwa serangan angkatan bersenjata Iran akan “lebih menyakitkan dan lebih luas.” Mereka berjanji operasi akan berlanjut dengan kekuatan yang lebih besar.
Namun, di tengah nada perang ini, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memberikan sinyal yang sedikit berbeda. Dalam wawancara dengan NBC, ia menegaskan bahwa Iran tertarik pada deeskalasi. “Ini bukan perang kami, tetapi dipaksakan kepada kami,” katanya. Ia juga menegaskan kesiapan Iran untuk membuktikan kedamaian program nuklirnya, tetapi menolak untuk menyerahkan hak pengayaan uranium.
Senjata Baru AS dan Proyeksi Perpanjangan Perang
Di pihak Amerika, laporan Fox News mengungkapkan bahwa militer AS menggunakan “kemampuan baru” dalam serangan ini, termasuk drone (pesawat nirawak) berpeledak untuk pertama kalinya dalam sejarah operasi tempur mereka. Seorang pejabat AS yang berbicara kepada Reuters mengungkapkan bahwa Presiden Trump telah diberi pengarahan sebelum serangan, yang mengindikasikan kemungkinan “pergeseran yang berlangsung selama beberapa generasi di Timur Tengah yang menguntungkan Amerika Serikat.”
Berapa lama ini akan berlangsung? Situs berita Israel, Walla, mengutip sumber-sumber Israel yang menyatakan bahwa operasi di Iran akan berlangsung setidaknya satu minggu. Hal ini dikuatkan oleh pejabat AS yang mengatakan kepada Washington Post bahwa “operasi terhadap Iran sedang berlangsung, dan ancaman masih ada.”
Di tengah pusaran informasi, Komando Pusat AS membantah keras klaim Iran yang menyebut telah menewaskan 200 tentara Amerika dan mengenai salah satu kapal perangnya.
Dilansir dari: Al Jazeera





