TIMUR TENGAH – Memasuki hari ketiga, Senin (2/3/2026), perang yang dipicu serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah bertransformasi menjadi konflik regional dengan dampak yang meluas dan kompleks. Rentetan serangan tidak lagi hanya terjadi di langit Iran dan Israel, tetapi juga melibatkan pangkalan militer, infrastruktur energi, dan jalur pelayaran vital di sejumlah negara Teluk. Ancaman baru pun muncul: penutupan Selat Hormuz yang dapat melumpuhkan pasokan minyak dunia.
Hujan Rudal dan Drone di Berbagai Front
Skala serangan dalam 72 jam pertama mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengklaim telah menghantam lebih dari 1.250 target di seluruh Iran sejak perang dimulai pada Sabtu (28/2). Pengebom strategis B-1 digunakan untuk serangan jauh ke dalam wilayah Iran, yang difokuskan untuk melumpuhkan kemampuan rudal balistik Teheran.
Di pihak Israel, juru bicara militer menyatakan angkatan udaranya telah menyerang lebih dari 600 target, termasuk 20 lokasi yang terkait dengan komando militer Iran, 150 rudal darat-ke-darat, dan lebih dari 200 sistem pertahanan udara. Front utara Israel juga tak luput, dengan klaim serangan terhadap 30 posisi Hizbullah di Lebanon sebagai respons atas tembakan roket ke wilayah Israel.
Iran merespons dengan gempuran yang tidak kalah dahsyat. Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang pusat komunikasi militer Israel di Beersheba, serta 20 target di Tel Aviv, Yerusalem, dan Galilea. Media Israel melaporkan 17 orang terluka akibat jatuhnya roket di area Beersheba, sementara total korban di pihak Israel disebut mencapai 12 tewas dan 500 luka-luka sejak perang dimulai.
Akibat tekanan serangan ini, Israel mengumumkan mobilisasi lebih dari 110.000 personel cadangan dan untuk sementara menghentikan produksi gas di Ladang Leviathan, sumber energi terbesarnya.
Tragedi “Tembak Kawan” dan Korban Amerika
Salah satu insiden paling dramatis di hari ketiga adalah pengakuan CENTCOM bahwa tiga pesawat tempur Amerika jatuh di Kuwait akibat “tembak kawan” (friendly fire). Pertahanan udara Kuwait secara tidak sengaja menembak jatuh jet-jet tersebut di tengah situasi tempur yang kacau. Beruntung, keenam awak pesawat berhasil menyelamatkan diri dengan parasut dan dalam kondisi stabil.
Pada saat yang sama, jumlah korban tewas di pihak Amerika meningkat. CENTCOM mengonfirmasi kematian personel keempat, yang awalnya terluka parah dalam serangan Iran di hari pertama. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengakui bahwa senjata Iran berhasil mengenai sebuah “pusat operasi taktis” yang menewaskan personel Amerika.
Serangan ke Jantung Ekonomi Teluk
Jika dua hari pertama perang didominasi oleh duel rudal, hari ketiga menandai eskalasi baru dengan serangan langsung Iran terhadap infrastruktur ekonomi negara-negara Teluk, yang menurut Teheran menampung pangkalan militer AS. Iran menegaskan bahwa serangan ini bukan ditujukan kepada negara-negara tersebut, melainkan sebagai respons terhadap “sumber agresi Amerika.”
Akibatnya, sejumlah insiden signifikan terjadi di seluruh kawasan Teluk:
Qatar: Pukulan terbesar mungkin dialami Qatar. Perusahaan milik negara, QatarEnergy, mengumumkan penghentian produksi gas alam cair (LNG) dan produk terkait setelah fasilitas operasional di Ras Laffan dan Mesaieed diserang drone. Dua drone Iran menargetkan fasilitas energi vital ini, yang merupakan jantung ekonomi Qatar dan pemasok gas utama dunia.
Uni Emirat Arab: Otoritas UEA melaporkan telah menghadapi 174 rudal balistik Iran, dengan 161 berhasil dihancurkan. Namun, 13 rudal jatuh di laut, dan sebuah serangan drone memicu kebakaran di tangki penyimpanan bahan bakar di Area Musaffah, Abu Dhabi. Di Ras Al Khaimah, puing-puing hasil intersepsi drone juga jatuh.
Kuwait: Militer Kuwait mengonfirmasi jatuhnya korban jiwa, dengan dua sersan angkatan laut gugur saat bertugas. Puing-puing serangan juga menghantam Kilang Minya al-Ahmadi, melukai dua pekerja, dan memicu kebakaran kecil di tangki bahan bakar. Asap mengepul di sekitar area Kedutaan Besar AS di Kota Kuwait, memicu evakuasi dan peringatan dari kedutaan tentang “ancaman rudal dan drone yang sedang berlangsung.”
Bahrain: Dampak serangan Iran mencapai pangkalan militer AS di Bahrain. Seorang pekerja asing tewas dan dua lainnya luka parah ketika pecahan rudal yang dicegat memicu kebakaran di sebuah kapal asing yang sedang diperbaiki. Pejabat AS mengonfirmasi kepada Al Jazeera bahwa staf Pentagon di Bahrain juga terluka dalam serangan itu.
Arab Saudi: Saudi sekali lagi menjadi sasaran. Drone yang menargetkan Kilang Ras Tanura berhasil dicegat, dan Pangkalan Udara Pangeran Sultan yang menampung personel AS di dekat Riyadh kembali menjadi target rudal untuk hari ketiga berturut-turut.
Ancaman Blokade Global di Selat Hormuz
Di tengah rentetan serangan ini, seorang komandan IRGC mengumumkan langkah paling eskalatif: penutupan Selat Hormuz, jalur air vital yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak dunia. Iran menyatakan akan menargetkan “kapal mana pun yang mencoba melintas” dan “jalur minyak musuh,” serta tidak akan mengizinkan ekspor minyak dari kawasan Teluk. Ancaman ini, jika terealisasi, dapat memicu krisis energi global yang parah.
Akibat kekacauan yang meluas, gangguan penerbangan massal terjadi. Lebih dari 5.400 penerbangan dibatalkan di tujuh bandara utama Teluk selama dua hari terakhir karena penutupan wilayah udara dan gangguan sinyal navigasi. Analisis Al Jazeera menunjukkan lonjakan tajam gangguan sinyal GPS di seluruh wilayah Timur Tengah dan Teluk.
Retorika “Gelombang Baru” dari Gedung Putih
Di Washington, Presiden Donald Trump memberikan pernyataan yang semakin agresif. Kepada CNN, ia mengancam akan meningkatkan serangan, dengan mengatakan, “Kami belum mulai memukul mereka dengan keras. Gelombang besarnya belum terjadi dan akan segera datang.” Ia juga tidak menutup kemungkinan pengiriman pasukan darat ke Iran jika diperlukan.
Namun, Menteri Pertahanan Hegseth mencoba membingkai perang ini secara berbeda. Ia menegaskan bahwa operasi ini “bukan perang tanpa akhir” dan “bukan perang untuk mengubah rezim,” meskipun ia mengakui bahwa “rezim (di Iran) telah berubah,” merujuk pada tewasnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
Dengan serangan yang melumpuhkan infrastruktur ekonomi negara-negara Teluk, ancaman blokade minyak, serta janji “gelombang besar” serangan dari AS, perang di hari ketiga ini menunjukkan bahwa konflik telah memasuki fase yang lebih luas, lebih dalam, dan jauh lebih berbahaya bagi stabilitas kawasan dan ekonomi global.
Dilansir dari: Al Jazeera





