GAZA, 6 April 2026 — Pidato Abu Ubaidah, juru bicara Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas, memicu reaksi luas di media sosial. Pidato tersebut berfokus pada lintasan eskalasi di kawasan, serta muatan dan pesan politiknya.
Abu Ubaidah menyatakan bahwa apa yang sedang terjadi di kawasan merupakan fase yang menentukan dalam sejarah umat, di tengah apa yang disebutnya sebagai “serangan Zionis-Amerika yang biadab” yang menargetkan sumber daya dan identitas mereka. Ia menganggap fase saat ini sebagai titik balik menuju “pemulihan kejayaan umat.”
Pidato yang Mencerminkan Semangat Satu Umat
Dalam pidato televisinya, Abu Ubaidah menambahkan bahwa konfrontasi tidak lagi terbatas pada Jalur Gaza, tetapi telah meluas ke beberapa front, dalam konteks konflik yang lebih luas tentang masa depan kawasan. Ia menggambarkan apa yang terjadi sebagai “agresi militer menyeluruh” yang melanggar hukum internasional dan menargetkan, menurutnya, kehendak rakyat dan hak mereka untuk menentukan nasib sendiri.
Ia menunjuk pada perang di Gaza, yang digambarkannya sebagai “perang genosida,” yang dampaknya telah melampaui batas-batas wilayah kantong tersebut hingga meliputi Lebanon, Yaman, Irak, dan Suriah, hingga ke wilayah regional lainnya. Ia menganggap hal ini mencerminkan kecenderungan untuk memperluas lingkaran konflik.
Abu Ubaidah menuduh kekuatan besar memiliki standar ganda, menunjuk pada apa yang disebutnya sebagai “diamnya internasional” yang berkontribusi memperdalam ketidakstabilan global, terutama di tengah tekanan pada warga Palestina untuk memenuhi komitmen gencatan senjata, sementara Israel tidak mematuhi ketentuannya.
Reaksi Luas di Media Sosial
Dalam komentar mereka tentang pidato tersebut, para blogger dan aktivis berpendapat bahwa Abu Ubaidah menutup pintu terhadap apa yang mereka sebut sebagai taktik mengulur waktu pendudukan. Mereka menegaskan bahwa implementasi fase pertama merupakan prasyarat untuk transisi ke fase berikutnya, untuk menghindari “menjual ilusi.”
Para pegiat media sosial mengatakan bahwa pidato Abu Ubaidah memberikan apa yang mereka sebut sebagai “kompas sejati” bagi bangsa Arab dan Islam yang mendambakan kebebasan. Mereka menganggap pidatonya menguraikan garis besar “peta jalan” yang dimulai dengan membela para tahanan dan tempat-tempat suci.
Seorang pegiat menulis, “Semoga Allah memberkatimu, wahai Abu Ubaidah. Kau letakkan segala sesuatu pada tempatnya. Kau hubungkan Gaza dengan Palestina, dan Palestina dengan kedalamannya di Iran, Yaman, dan Lebanon. Kau sampaikan isu ini kepada bangsa Arab dan Muslim. Kau tidak melupakan Syam. Kau ingatkan tentang para tahanan dan perjalanan malam Isra Mikraj. Kau serukan persatuan. Kau peringatkan agar tidak sibuk dengan pertempuran sampingan. Dan bahwa banjir (Al-Aqsa) tidak akan berhenti.”
Para blogger menjelaskan bahwa pidato Abu Ubaidah bersifat “komprehensif dan mendalam,” yang menurut mereka mencerminkan ruh satu umat, membangkitkan semangat mereka, dan mengarahkan kompas mereka menuju Yerusalem sebagai isu sentral.
Penekanan pada Persatuan Musuh dan Persatuan Nasib
Yang lain mencatat bahwa pidato tersebut sesuai dengan skala fase saat ini, dan mengemukakan gagasan bahwa umat ini bersatu dalam menghadapi apa yang mereka sebut sebagai konsekuensi kehadiran Amerika di kawasan dan “pendudukan Israel.” Mereka menganggap bahwa saatnya telah tiba untuk mengakhiri fase ini.
Mereka menambahkan bahwa pidato tersebut menekankan persatuan musuh dan persatuan nasib, tanpa menyimpang dari “musuh utama.” Mereka menegaskan bahwa pidato itu membawa pesan-pesan yang mendukung perlawanan Palestina dan sangat menekankan penolakan terhadap proyek hegemoni dan pendudukan.
Mereka menganggap bahwa pidato Abu Ubaidah mengungkapkan, dengan lebih jelas, muatan yang tidak tercermin dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan setelah pertemuan-pertemuan tersebut. Mereka menunjuk pada indikasi bahwa hari-hari mendatang mungkin akan menyaksikan eskalasi, dan bahwa jalur negosiasi telah mencapai titik yang tidak jelas, terutama mengenai nasib fase kedua dan hak-hak fase pertama dari perjanjian gencatan senjata.
Sumber: Al Jazeera





