WASHINGTON, 1 April 2026 — Penurunan popularitas Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam jajak pendapat tidak hanya disebabkan oleh perang dengan Iran. Menurut surat kabar Financial Times, agenda Trump di bidang perdagangan dan imigrasi yang menghadapi resistensi dari lembaga peradilan juga menjadi faktor penting di balik merosotnya dukungan publik.
Dalam artikel yang ditulis Edward Luce, Financial Times menjelaskan bahwa indikator penurunan popularitas Trump sebenarnya telah terlihat sejak berbulan-bulan lalu akibat kekacauan prioritas dan peralihannya yang terus-menerus antara isu domestik dan internasional.
Kekacauan di Dalam Pemerintahan
Artikel tersebut menyoroti kebingungan di dalam pemerintahan Trump, di mana upayanya untuk fokus memperbaiki kondisi ekonomi gagal karena dominasi ketegangan eksternal, terutama dengan Iran, yang berdampak langsung pada pasar dan inflasi Amerika.
Iran adalah contoh terbaru, dan mungkin yang paling dramatis, dari peralihan Trump yang tak menentu dari isu domestik ke panggung internasional—dari penggerebekan imigrasi ke serangan rudal. Ia memulai tahun dengan isu Venezuela. Setelah mundur dari rencana aneksasi Greenland, ia mulai memperkuat kehadiran militer AS di Timur Tengah.
Bahkan jika Trump mendeklarasikan kemenangan sepihak di Iran, dampak operasi militer terhadap inflasi AS tetap memburuk.
Strategi Iran dan Tekanan Ekonomi
Financial Times menjelaskan bahwa Iran, mengikuti jejak China yang menggunakan logam tanah jarang sebagai alat tekanan terhadap Trump, menemukan Selat Hormuz sebagai cara efektif untuk menekan pasar global.
Padahal awalnya diyakini bahwa Trump mungkin akan melakukan petualangan eksternal jika ia kalah dalam pemilihan paruh waktu November mendatang. Namun ia memulai jalur ini lebih awal. Ia juga memiliki ide-ide lain, termasuk Kuba, yang baru-baru ini ia katakan “Saya pikir saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan di sana.” Rezim Kuba tampaknya telah menerima peringatan itu.
Tergerusnya Basis Dukungan Trump
Di ranah politik, artikel tersebut menunjukkan tergerusnya basis dukungan Trump, terutama di kalangan kelas pekerja dan pemilih independen. Kritik bahkan meningkat dari beberapa tokoh berpengaruh yang dekat dengannya.
Salah satu orang dekat Trump menggambarkan perang dengan Iran sebagai “gila” dan mengatakan bahwa para pendukung presiden merasa dikhianati. Sementara pemilih independen jelas berbalik melawannya. Jajak pendapat terbaru menunjukkan dua pertiga dari mereka tidak menyetujui kinerjanya—angka penolakan tertinggi dalam dua periode pemerintahannya.
Kesimpulan: Eskalasi Dini yang Memperumit Krisis
Artikel tersebut menyimpulkan bahwa alih-alih menunggu tekanan pemilu mendatang pada bulan November, Trump mulai lebih awal mengadopsi kebijakan luar negeri yang eskalatif. Hal ini mencerminkan upaya untuk mengkompensasi kemerosotan internalnya, tetapi pada saat yang sama memperumit krisis politiknya dan melemahkan posisinya dalam jangka panjang.
Sumber: Al Jazeera + Financial Times





