BEIRUT, SANA’A, BAGHDAD – Gelombang kecaman dan peringatan keras mengalir dari sekutu-sekutu Iran di kawasan Timur Tengah, menyusul serangan gabungan besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke sejumlah kota di Iran, Sabtu (28/2/2026). Di tengah ketegangan yang meningkat, para analis militer mulai memetakan skenario serangan balasan yang mungkin dilancarkan oleh poros perlawanan, mulai dari target militer hingga infrastruktur ekonomi vital.
Sekutu Iran Bersuara: Peringatan akan “Akibat Buruk”
Hizbullah di Lebanon, dalam pernyataan resminya, mengecam serangan tersebut sebagai “pelanggaran telak terhadap hukum internasional” dan “kelanjutan dari arogansi Amerika-Israel.” Kelompok itu menyatakan solidaritas penuh dengan Iran dan memperingatkan bahwa “konsekuensi buruk dari agresi ini akan menimpa semua orang tanpa kecuali jika tidak dihadapi dengan tegas.”
Di Irak, Al-Hashd Al-Sha’bi (Pasukan Mobilisasi Rakyat) melalui pernyataan yang dikutip situs Al-Masirah, menyatakan “berdiri penuh di samping Republik Islam Iran” dan mengecam keras “agresi biadab Amerika-Zionis.” Mereka menegaskan bahwa serangan tersebut menargetkan fasilitas sipil dan militer serta mencerminkan tantangan terhadap kedaulatan nasional dan stabilitas kawasan.
Sementara itu, kelompok Ansar Allah (Houthi) di Yaman, juga melalui Al-Masirah, mengutuk “agresi Amerika-Zionis yang kejam.” Mereka memperingatkan bahwa serangan ini tidak hanya menargetkan Iran, tetapi bertujuan membentuk ulang kawasan demi mewujudkan apa yang disebut “Timur Tengah Baru.”
Peta Target Potensial: dari Militer hingga Ekonomi
Di tengah pernyataan tegas tersebut, para analis militer dan politik melihat bahwa respons sekutu Iran kemungkinan akan terkoordinasi dan mencakup spektrum target yang luas.
Mayor Jenderal (Purn.) Muhammad Abdul Wahid, pakar keamanan nasional dan hubungan internasional, dalam analisisnya kepada Al Jazeera menyebutkan beberapa target potensial:
Target Militer Langsung: Pangkalan dan pasukan Amerika di Irak dan Suriah, posisi militer di perbatasan Suriah-Lebanon atau Israel.
Aset Maritim: Kapal perang atau kapal asing, terutama di kawasan Teluk, Laut Merah, dan Bab el-Mandeb, yang berpotensi dilakukan oleh Houthi atau faksi lain.
Infrastruktur Ekonomi Strategis: Menurutnya, “serangan terhadap Teluk hari ini telah memindahkan perang dari fase militer ke fase ekonomi dan politik.” Target seperti pelabuhan, bandara, dan jalur pelayaran di Selat Hormuz atau Bab el-Mandeb dapat melumpuhkan transportasi laut, memicu kenaikan biaya pengiriman dan asuransi. Ini bisa menjadi alat tekanan internasional yang kuat.
Perhitungan Matang di Tengah Tekanan
Namun, para analis sepakat bahwa eskalasi akan tetap diperhitungkan dengan cermat. Wael Alwan, peneliti spesialis urusan militer, berpandangan bahwa respons dari kelompok-kelompok pro-Iran akan “sangat terbatas.”
Alwan menjelaskan bahwa “kesenjangan kekuatan sangat besar, dan tekanan politik, keamanan, serta militer terhadap entitas yang terkait dengan Iran juga sangat besar.” Ia menambahkan, “Hizbullah, Houthi, dan faksi-faksi di Irak saat ini menghadapi tantangan dan tekanan internal yang besar.” Menurutnya, serangan roket terhadap Israel mungkin terjadi, tetapi “tidak akan berdampak signifikan.”
Senada dengan itu, Mayjen Abdul Wahid menegaskan bahwa meskipun keterlibatan sekutu Iran akan memperluas area pertempuran, “hal itu tidak serta merta mendorong kita ke perang regional menyeluruh.” Setiap pihak, katanya, akan mempertimbangkan risiko serangan balasan AS-Israel terhadap wilayah mereka sendiri.
Strategi Jangka Panjang: Perang Atrisi
Lebih jauh, para analis melihat bahwa strategi utama Iran adalah mengubah konflik ini menjadi perang atrisi jangka panjang. Andrei Ontikov, analis politik Rusia, menjelaskan kepada Al Jazeera bahwa AS dan Israel ingin meraih kemenangan cepat, termasuk kemungkinan melumpuhkan kepemimpinan Iran. Sebaliknya, “tujuan Iran adalah mengubah perang ini menjadi konflik berkepanjangan yang menjebak AS dan Israel dalam ‘rawa’ baru seperti Afghanistan atau Irak.”
Ia menambahkan, tujuan kedua adalah “memaksakan kerugian yang tidak dapat diterima” pada AS dan Israel, baik dari segi personel maupun infrastruktur. Untuk itu, kekuatan pro-Iran harus berkontribusi dalam upaya ini.
Peran Rusia dan China: Dukungan Logistik, Bukan Intervensi Langsung
Soal kemungkinan keterlibatan kekuatan besar, para analis sepakat bahwa Rusia dan China kemungkinan besar tidak akan melakukan intervensi militer langsung.
Mayjen Abdul Wahid menilai Rusia “takut melakukan intervensi langsung.” Namun, ia memperkirakan kedua negara itu dapat memberikan bantuan logistik, material, atau intelijen, seperti informasi pergerakan musuh atau dukungan teknologi (misalnya, bahan bakar padat untuk rudal). Analis Ontikov juga meyakini bahwa “Iran tidak akan sendirian” mengingat kepentingan geopolitiknya, dan bantuan akan datang untuk memungkinkan Iran memaksakan kerugian besar pada lawannya.
Dengan meningkatnya retorika dan potensi target yang terpetakan, kawasan kini berada pada titik kritis. Pertanyaan besarnya adalah apakah peringatan sekutu Iran akan berubah menjadi aksi nyata yang terukur, dan bagaimana AS serta Israel akan merespons jika hal itu terjadi.
Dilansir dari: Al Jazeera.net





