TEHERAN, TEL AVIV – Di tengah reruntuhan yang masih berasap di sebuah lokasi rahasia di Teheran, seorang pria tanpa identitas yang jelas muncul dari bayang-bayang. Di sekelilingnya, kepanikan masih menyelimuti para pengawal dan pejabat yang selamat. Namun, pria ini bertindak tenang. Ia mengeluarkan ponselnya, mengarahkan lensa ke arah sosok terbaring yang tak bergerak: Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Revolusi Iran yang baru saja tewas dalam serangan rudal presisi.
Foto dan video yang direkamnya dalam hitungan detik itu kemudian dikirim melalui jalur aman. Dalam waktu singkat, bukti kematian pemimpin yang telah memimpin Iran selama lebih dari tiga dekade itu tiba di meja Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump. Tak lama kemudian, dunia mendengar konfirmasi dari seorang “pejabat tinggi Israel” dan pernyataan penuh kemenangan dari Trump sendiri. Pria tanpa nama di Teheran itu hanyalah satu dari sekian banyak “serigala” yang selama ini bergerak senyap di jantung Republik Islam.
Sebuah Operasi yang Telah Lama Direncanakan
Pembunuhan Khamenei bukanlah hasil dari keberuntungan atau serangan mendadak semata. Ini adalah puncak dari strategi panjang dan mendalam yang dijalankan oleh dinas intelijen Israel, Mossad, selama bertahun-tahun. Seperti diungkap dalam laporan investigasi Al Jazeera, Mossad—nama resminya “Lembaga Intelijen dan Tugas Khusus”—telah lama menempatkan Iran sebagai target utama. Filosofinya terangkum dalam moto yang diambil dari Kitab Amsal: “Di mana tidak ada kebijaksanaan, rakyat akan jatuh, tetapi dalam banyak penasihat ada keselamatan.” Bagi Israel, “kebijaksanaan” itu berarti tindakan pencegahan (pre-emptive) yang agresif.
Jejak operasi Mossad di Iran sudah terlihat jelas sejak lama. Pada perang terbuka pertama antara Israel dan Iran, Juni 2025, Israel secara tidak biasa mengakui peran besar agen-agennya di dalam negeri Iran. Koran-koran Ibrani dipenuhi laporan tentang bagaimana intelijen berhasil melumpuhkan program rudal dan nuklir Iran dari dalam. Ketika gencatan senjata berlaku, Teheran mengklaim telah menangkap sekitar 700 orang yang diduga sebagai agen yang terkait dengan Israel, beberapa di antaranya dieksekusi. Namun, angka itu hanya puncak gunung es. Jaringannya jauh lebih dalam.
Dari “Robot Pembunuh” hingga Pengkhianatan dari Dalam
Salah satu babak paling mencengangkan dari perang intelijen ini adalah pembunuhan Mohsen Fakhrizadeh pada November 2020. Ilmuwan nuklir terkemuka Iran, yang dijuluki “bapak program nuklir militer Iran,” tewas bukan oleh tim pembunuh, melainkan oleh sebuah robot yang dikendalikan dari jarak jauh melalui satelit. Dilengkapi kecerdasan buatan dan mampu menembak 600 peluru per menit, robot yang dipasang di sebuah pikap itu menembak Fakhrizadeh tanpa satu pun agen Mossad berada di lokasi. Ini adalah bukti kemampuan teknologi dan penetrasi intelijen yang begitu dalam hingga bisa menempatkan senjata mematikan tepat di jalur yang akan dilalui target.
Yang lebih meresahkan bagi rezim Iran adalah kenyataan bahwa Mossad tidak selalu harus mengirim agen asing. Mereka merekrut “serigala” dari dalam negeri sendiri. Pada Juli 2022, misalnya, otoritas Iran mengumumkan penangkapan dua jaringan mata-mata secara terpisah. Pertama, sekelompok warga asing, termasuk diplomat dan akademisi, yang kedapatan mengambil sampel tanah di zona militer terlarang. Kedua, sebuah jaringan beranggotakan lima orang Iran, termasuk seorang pemimpin kelompok oposisi, yang berkomunikasi dengan Mossad melalui negara tetangga dan berencana melakukan aksi sabotase bersenjata.
Puncak Gunung Es: Kematian Seorang Pemimpin
Semua upaya ini — pelacakan, perekrutan, penyusupan, dan teknologi canggih — bermuara pada peristiwa 28 Februari 2026. Ketika rudal-rudal F-35 Israel menghujani target di Teheran, salah satunya secara presisi menghantam lokasi keberadaan Khamenei. Presisi itu tidak mungkin terjadi tanpa “mata” di lapangan.
“Serigala” yang merekam video kematian sang pemimpin adalah simbol keberhasilan operasi jangka panjang ini. Ia mungkin bukan agen asing, tetapi orang Iran yang direkrut, dimanfaatkan, atau bahkan orang dalam yang selama ini dipercaya. Keberadaannya di lokasi paling rahasia saat serangan terjadi menunjukkan bahwa Mossad tidak hanya mampu menempatkan mata-mata di jalanan Teheran, tetapi juga di ruang-ruang paling pribadi dari pusat kekuasaan.
Sore itu, saat jenazah Khamenei diangkat dari puing-puing, dunia menyaksikan kemenangan intelijen Israel yang paling berani dan berdarah. Namun, di balik gemerlapnya operasi, pertanyaan besar menggantung: berapa banyak lagi “serigala” yang masih berkeliaran di kota-kota Iran? Dan berapa harga yang harus dibayar untuk setiap keberhasilan semacam ini?
Sumber: Al Jazeera





