TEHERAN, 7 Maret 2026 — Di tengah hiruk-pikuk perang terbuka dengan Amerika Serikat dan Israel, Iran tengah menghadapi pergulatan internal yang tak kalah krusial: pemilihan pemimpin tertinggi (Rahbar) berikutnya untuk menggantikan Ayatollah Ali Khamenei. Para analis menyebut proses ini sebagai penentu masa depan negara, yang akan membentuk arah kebijakan dalam negeri, regional, dan internasional Republik Islam untuk dekade mendatang.
Abdul Qadir Faiz, jurnalis dan pakar urusan Iran, menjelaskan kepada Al Jazeera bahwa diskusi internal di Teheran kini terpusat pada identitas pemimpin berikutnya. “Ini bukan sekadar suksesi biasa, ini adalah ancaman eksistensial bagi negara yang akan mempengaruhi identitas politik, sosial, dan orientasi global Iran,” ujarnya.
Empat Kandidat dan Poros Kekuatan
Menurut Faiz, terdapat setidaknya empat nama utama yang beredar di lingkaran elit politik dan keagamaan Iran:
Mojtaba Khamenei: Putra pemimpin saat ini, yang memiliki hubungan dekat dengan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC). Ia dianggap sebagai kandidat terkuat, meskipun hingga kini menolak untuk menerima posisi tersebut.
Ali Khamenei (cucu Khomeini): Mewakili arus tradisionalis garis keras yang dekat dengan fondasi revolusi.
Hassan Khamenei (cucu tertua Khomeini): Figur yang diasosiasikan dengan kubu reformis-konservatif.
Arus Hauzah (seminari): Memainkan peran sebagai “kartu liar” dalam keseimbangan kekuatan politik.
Faiz menekankan bahwa kekuasaan politik, militer, dan keamanan di Iran saat ini berada di tangan IRGC, sebuah institusi yang telah menjadi entitas terintegrasi tidak hanya secara militer, tetapi juga ekonomi, budaya, dan sosial. Oleh karena itu, pilihan pemimpin baru tidak dapat dipisahkan dari dinamika internal korps ini.
Ambisi AS dan Skenario “Venezuela” di Iran
Di Washington, para pejabat AS secara terbuka membahas perlunya campur tangan dalam proses suksesi ini, menganggapnya sebagai bagian dari tujuan perang. Nigar Mortazavi, peneliti Iran di Center for International Policy di Washington, mengungkapkan bahwa meningkatnya tuntutan Presiden Donald Trump bertujuan untuk meniru skenario yang mirip dengan Venezuela atau Libya—mengganti pucuk pimpinan dengan figur yang mau bekerja sama dengan AS, tanpa perlu mengerahkan pasukan darat.
Namun, Mortazavi meragukan Iran akan menerima tuntutan ini. “Iran tidak akan menyerah, baik di medan perang maupun dalam wacana politik,” tegasnya. Ia menduga tujuan akhir AS mungkin adalah mempertahankan sistem Republik Islam tetapi dengan pemimpin yang lebih akomodatif—sebuah upaya yang disebutnya mirip dengan pendekatan Washington terhadap Venezuela.
Rahasia dan Ancaman: Pertimbangan Keamanan di Atas Segalanya
Di dalam negeri, Iran tengah bersiap menghadapi berbagai kemungkinan. Mohammad Saleh Sedqian, peneliti masalah regional yang berbasis di Teheran, mengungkapkan bahwa Iran telah membentuk “dewan kepemimpinan sementara” yang terdiri dari Presiden, Kepala Peradilan Tertinggi, dan seorang anggota Dewan Wali, untuk mengelola urusan negara jika terjadi kekosongan. Pemerintah juga telah membagi negara menjadi beberapa zona administratif untuk menghadapi keadaan darurat.
Zahra Nosrat Khwarazmi, akademisi dari Universitas Teheran, menegaskan bahwa pertimbangan keamanan memaksa kerahasiaan dalam proses pemilihan pemimpin baru. Ia menolak narasi AS yang ingin campur tangan sebagai pemahaman yang keliru tentang sistem politik Iran.
Lebih jauh, Khwarazmi memperingatkan bahwa pengalaman pembunuhan politik di kawasan—seperti pembunuhan Sekretaris Jenderal Hizbullah Hassan Nasrallah dan penggantinya Hashim Safi al-Din di Lebanon—telah menciptakan kekhawatiran yang sangat nyata. “Menjaga identitas pemimpin baru tidak diumumkan pada tahap ini mungkin merupakan pilihan keamanan untuk menghindari penargetan,” jelasnya, terutama di tengah perang terbuka yang sedang berlangsung.
Proses suksesi di Iran bukan hanya tentang pergantian satu pemimpin; ini adalah pertempuran sunyi yang akan menentukan apakah negara itu akan tetap pada jalur perlawanan militan, membuka diri pada kompromi, atau mungkin berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Di bawah bayang-bayang rudal dan di lorong-lorong kekuasaan yang tertutup rapat, nasib Republik Islam untuk setengah abad ke depan sedang ditentukan.
Sumber: Al Jazeera





