TEHERAN, 17 Maret 2026 — Serangan Israel baru-baru ini di Teheran, yang menurut Tel Aviv menargetkan Komandan Pasukan Basij Gholam Reza Soleimani dan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Ali Larijani, membuka pertanyaan tentang dampak penargetan para pemimpin ini terhadap struktur rezim Iran, terutama salah satu lengan keamanannya yang paling menonjol dengan karakter ideologis yang kuat.
Militer Israel mengumumkan telah melaksanakan “serangan presisi” di dalam ibu kota Iran yang menargetkan Soleimani, serta mengklaim telah membunuh Larijani di sebuah apartemen rahasia, sebagai bagian dari serangkaian operasi yang menargetkan sistem komando dan kendali di Iran.
Menurut laporan Al Jazeera, penargetan tidak terbatas pada individu tertentu, tetapi juga mencakup, menurut sumber Israel, beberapa lokasi di mana pasukan Basij ditempatkan di dalam Teheran, dengan laporan tentang tewasnya sejumlah komandan mereka selama pertemuan keamanan.
Apa Itu Basij dan Mengapa Penting?
Basij, atau “Pasukan Mobilisasi Rakyat,” adalah kekuatan paramiliter yang berada di bawah Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC). Mereka merupakan bagian penting dari sistem keamanan Iran yang terhubung langsung dengan Pemimpin Tertinggi, bersama dengan lembaga-lembaga seperti Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dan Staf Umum Angkatan Bersenjata.
Pentingnya Basij terletak pada posisinya sebagai salah satu pilar dari “triad keamanan” yang dianggap sebagai kunci ketahanan rezim, bersama dengan IRGC dan badan intelijen. Diperkirakan jumlah anggotanya melebihi dua juta personel yang tersebar di berbagai lapisan masyarakat.
Tugas kekuatan ini meliputi menjaga keamanan internal, mengelola pos pemeriksaan, memantau ruang publik, serta kehadiran mereka di universitas dan lembaga-lembaga, yang memberi mereka dimensi sosial yang melampaui sekadar formasi militer tradisional.
Dampak pada Kinerja Lapangan dan Koordinasi
Analis dan jurnalis yang berspesialisasi dalam urusan Iran, Abdul Qader Fayez, berpendapat bahwa pembunuhan komandan Basij tidak akan segera berdampak pada kinerja lapangan organisasi tersebut, mengingat sifatnya yang terdesentralisasi dan ketergantungannya pada jaringan luas sukarelawan yang tersebar di seluruh negeri.
Fayez menambahkan bahwa tidak adanya kepemimpinan dalam organisasi semacam itu tidak berarti kelumpuhan langsung, tetapi dapat menyebabkan “redistribusi kekuasaan” di dalam Basij, di mana para pemimpin lapangan lokal akan maju untuk mengisi kekosongan, memanfaatkan sifat jaringan organisasi tersebut. Ia mencatat bahwa karena jangkauan sosialnya, Basij tidak hanya bergantung pada perintah terpusat tetapi juga pada inisiatif lokal yang didorong oleh loyalitas ideologis, membuat keberlanjutannya kurang terkait dengan sosok pemimpin dibandingkan dengan tentara reguler.
Dampak yang paling menonjol mungkin akan muncul pada tingkat “koordinasi terpusat” antara unit-unit Basij dan IRGC, di mana pemimpin berperan sebagai penghubung antara kepemimpinan tertinggi dan penyebaran populer yang luas. Setiap gangguan dalam koordinasi ini dapat mempengaruhi efisiensi manajemen keamanan internal, terutama di saat krisis, ketika negara membutuhkan respons yang terpadu dan cepat di berbagai provinsi.
Fayez juga melihat bahwa penargetan komandan Basij memiliki dimensi psikologis dan moral, mengirimkan pesan langsung ke basis ideologis organisasi bahwa para pemimpin mereka tidak kebal terhadap penetrasi, yang dapat mempengaruhi kepercayaan internal.
“Tangkapan Intelijen Berharga” dan Dampak Politik
Pakar militer dan strategis, Kolonel Nidal Abu Zeid, mencatat bahwa menargetkan tokoh-tokoh seperti Soleimani dan Larijani dianggap sebagai “tangkapan intelijen yang berharga,” mengingat kompleksitas sistem pengambilan keputusan di dalam rezim Iran. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan operasi semacam itu mencerminkan penetrasi mendalam ke dalam struktur keamanan, memaksa Iran untuk menata ulang prioritasnya, tidak hanya secara militer tetapi juga pada tingkat perlindungan kepemimpinan dan manajemen komunikasi.
Abu Zeid berpendapat bahwa tidak adanya komandan Basij mungkin tidak mengubah keseimbangan militer secara langsung, tetapi memberikan tekanan pada “keamanan internal,” yang merupakan salah satu garis pertahanan utama rezim di masa perang. Basij mewakili “garis kontak internal,” dan kebingungan dalam kepemimpinannya dapat menciptakan celah sementara dalam kendali atas jalanan, terutama jika bertepatan dengan tekanan eksternal atau gangguan internal.
Namun, ia menunjukkan bahwa sifat sistem Iran yang didasarkan pada pluralitas pusat keputusan mengurangi dampak tidak adanya individu, karena mereka dapat dengan cepat digantikan dalam struktur kepemimpinan yang luas dan saling terkait. Abu Zeid menyimpulkan bahwa dampak terpenting dari pembunuhan ini mungkin lebih bersifat politis dan keamanan daripada militer, mendorong kepemimpinan Iran untuk meninjau kembali perilakunya, dan mungkin condong ke arah de-eskalasi untuk mengurangi kerugian di kalangan elit.
Sumber: Al Jazeera





