Koran harian Israel, Haaretz, melaporkan pada Kamis (29/1) bahwa militer Israel untuk pertama kalinya “mengadopsi data Kementerian Kesehatan Gaza” yang menyebutkan sekitar 70.000 warga Palestina tewas selama perang. Pengakuan ini muncul di tengah kebuntuan dalam perundingan dan perdebatan tentang syarat rekonstruksi Gaza.
Menurut laporan Haaretz yang mengutip sumber-sumber keamanan Israel, “kesepakatan Gaza membingungkan dan meninggalkan isu-isu yang belum terselesaikan,” termasuk pelucutan senjata Hamas dan sejauh mana penarikan pasukan Israel dari Jalur Gaza. Sumber tersebut menambahkan, “Jika tidak ada perubahan mendasar terkait pelucutan senjata, Israel akan terpaksa memasuki Jalur Gaza lagi.”
Rekonstruksi Terkendala Persyaratan Pelucutan Senjata
Pemerintah Israel, dengan dukungan Amerika Serikat, dilaporkan telah memutuskan untuk mengizinkan rekonstruksi kawasan Rafah yang baru di selatan Gaza yang berada di bawah kendalinya, sebagai respons atas permintaan AS. Sebelumnya, Israel mensyaratkan penyelesaian pelucutan senjata di Gaza sebagai prasyarat untuk memulai rekonstruksi.
Namun, berdasarkan “kesepahaman baru” yang dilaporkan Haaretz, rekonstruksi di Gaza lama tidak akan dimulai hingga pelucutan senjata selesai. Sementara itu, pembangunan di Rafah yang baru diizinkan bersamaan dengan komitmen Hamas untuk melucuti senjata.
Terlepas dari itu, pejabat militer mengatakan pekerjaan di Rafah belum dimulai karena negara-negara donor belum menentukan mekanisme pendanaannya. Pejabat Israel yang dikutip Haaretz juga memperingatkan bahwa mempercepat rekonstruksi Gaza tanpa pelucutan senjata akan menciptakan ancaman baru bagi Israel.
Kondisi Kemanusiaan yang Suram
Perang yang dimulai Israel pada Oktober 2023 telah berlangsung selama lebih dari dua tahun. Data dari otoritas kesehatan Gaza menunjukkan korban tewas melebihi 71.000 orang dengan lebih dari 171.000 luka-luka, yang sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan.
Krisis kemanusiaan di Gaza semakin parah. Pasukan Israel telah menghancurkan 90% infrastruktur sipil, dan PBB memperkirakan biaya rekonstruksi mencapai sekitar 7 miliar dolar. Sekitar 2,4 juta warga Palestina, termasuk 1,5 juta pengungsi, hidup dalam kondisi yang digambarkan sebagai bencana.
Pelanggaran Gencatan Senjata dan Tekanan Internasional
Hamas telah berulang kali menyerukan tekanan internasional terhadap Israel untuk memenuhi kewajiban dalam perjanjian gencatan senjata, khususnya untuk memulai proses rekonstruksi.
Namun, laporan menyebutkan bahwa Israel setiap hari melanggar kesepakatan gencatan senjata. Pelanggaran ini telah mengakibatkan 488 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata berlaku. Israel juga disebut menghalangi masuknya jumlah makanan, obat-obatan, perlengkapan medis, dan bahan penampungan yang telah disepakati ke Gaza.
Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun ada pengakuan terhadap besarnya korban jiwa, jalan menuju perdamaian dan pemulihan di Gaza masih penuh dengan tantangan politik dan keamanan yang kompleks.
Sumber: www.aljazeera.net





