Dunia memasuki babak baru yang belum pernah terjadi sebelumnya pada Minggu pagi, 1 Maret 2026, ketika televisi pemerintah Iran secara resmi mengonfirmasi kabar yang sebelumnya hanya menjadi spekulasi: Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara Israel yang mengguncang Teheran pada Sabtu (28/2).
Kabar yang pertama kali dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump ini memicu pengumuman resmi dari Pemerintah Iran. Negeri para Mullah kini berduka. Pemerintah mengumumkan masa berkabung umum selama 40 hari dan meliburkan seluruh kantor resmi selama tujuh hari ke depan. Di tengah duka, muncul tekad baja. Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran menyatakan bahwa “kesyahidan” Khamenei akan menjadi “titik tolak kebangkitan besar melawan para tiran dunia.” Garda Revolusi Iran (IRGC) pun langsung bersumpah akan membalas kematian pemimpin tertingginya.
Detail kepergian pemimpin berusia 85 tahun itu terungkap. Kantor berita Fars melaporkan bahwa Khamenei gugur di kantornya saat bekerja pada Sabtu pagi. Pukulan itu menjadi lebih pahit karena laporan yang sama, mengutip sumber dekat kantornya, menyebutkan bahwa serangan Israel juga merenggut nyawa putrinya, menantunya, cucu perempuannya, dan istri putranya.
Transisi Kepemimpinan di Tengah Badai
Kekosongan kekuasaan secepat mungkin diisi. Mohammad Mokhber, pembantu Khamenei, mengumumkan bahwa urusan negara untuk sementara akan dipegang oleh sebuah Dewan Kepemimpinan Sementara yang terdiri dari tiga tokoh. Mereka adalah Presiden Masoud Pezeshkian, Kepala Otoritas Yudisial Gholam Hossein Mohseni Ejei, dan seorang ahli hukum dari Dewan Wali. Kepresidenan Iran, dalam pernyataannya, menegaskan bahwa pembunuhan terhadap Khamenei adalah “kejahatan besar yang tidak akan dibiarkan begitu saja” dan berjanji akan membalas dengan “segala kekuatan dan keteguhan.”
Suara dari Washington: Antara Kemenangan dan Tawaran Perdamaian
Di seberang lautan, Presiden Trump berbicara terbuka kepada sejumlah media. Kepada NBC News, ia dengan percaya diri menyatakan bahwa “sebagian besar orang yang mengambil semua keputusan di Iran telah pergi.” Namun, di sela-sela retorika kemenangan itu, Trump justru membuka pintu diplomasi.
Dalam wawancara dengan situs Axios, yang dilakukan sebelum konfirmasi resmi kematian Khamenei, Trump mengungkapkan bahwa ia memiliki beberapa “opsi alternatif” selain melanjutkan kampanye militer. Ia mengklaim dapat mengakhiri perang “dalam dua atau tiga hari” jika menginginkannya. “Saya dapat melanjutkan perang dan mengendalikan seluruh situasi atau mengakhirinya,” katanya dari kediamannya di Mar-a-Lago. Ini adalah sinyal paling jelas bahwa Gedung Putih mungkin terbuka pada solusi diplomatik, meskipun operasi militer masih berlangsung.
Trump juga menyebutkan bahwa ia telah mengidentifikasi “beberapa kandidat bagus” untuk memimpin Iran pasca-Khamenei, tanpa menyebut nama. Ia bahkan mengklaim tahu persis siapa pengambil keputusan sebenarnya di Iran sekarang.
Panggilan untuk Garda Revolusi dan Narasi Kemanusiaan
Dalam pernyataan yang juga ditujukan ke dalam negeri Iran, Trump menyerukan agar anggota IRGC, militer, dan pasukan keamanan Iran yang “tidak lagi ingin bertempur” untuk berintegrasi secara damai dengan “para patriot Iran” guna mengembalikan kejayaan negara mereka.
Menurutnya, kematian Khamenei bukan hanya keadilan bagi rakyat Iran, tetapi juga bagi “seluruh rakyat Amerika yang hebat.” Ia menggambarkan serangan yang sukses menembus pertahanan dan menewaskan pemimpin tertinggi itu sebagai bukti keunggulan teknologi intelijen AS.
Kelanjutan Operasi dan Masa Depan yang Tidak Pasti
Meskipun ada isyarat diplomasi, meriam masih bergemuruh. Seorang pejabat senior AS menyatakan bahwa kampanye pemboman intensif diperkirakan akan berlangsung setidaknya lima hari lagi. Namun, Trump sendiri mengakui jadwal ini bisa berubah tergantung perkembangan di lapangan.
Sementara itu, di Iran, seorang komandan IRGC menegaskan kepada Fars bahwa struktur sistem Iran dirancang untuk segera menempatkan orang-orang kompeten jika terjadi kekosongan kepemimpinan. Ia menekankan, “Pembunuhan para pemimpin tidak akan memberikan dampak sekecil apa pun pada jalannya kemajuan dalam pertempuran ini.”
Iran kini berdiri di persimpangan jalan yang paling kritis dalam sejarah modernnya. Duka, amarah, dan tekad bercampur menjadi satu, sementara di kejauhan, terdengar tawaran perdamaian dari presiden negara yang rudalnya baru saja menghancurkan jantung kekuasaan mereka. Perang ini, yang dimulai hanya sehari sebelumnya, kini memasuki fase yang sama sekali baru dan tak terduga.
Sumber: Al Jazeera





