WASHINGTON, 13 Februari 2026 — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan akan segera mengirim kapal induk kedua, USS Gerald R. Ford, ke kawasan Timur Tengah. Langkah ini merupakan eskalasi penumpukan kekuatan militer AS di tengah meningkatnya tekanan terhadap Iran terkait program nuklir dan rudal balistiknya.
Berbicara di Gedung Putih pada Jumat (13/2), Trump mengkonfirmasi bahwa kapal induk tersebut akan meninggalkan Karibia menuju Timur Tengah “segera”. Ia menyatakan kesiapan kekuatan besar ini seraya mengulangi keyakinannya bahwa negosiasi dengan Iran akan “berhasil”, namun memperingatkan akan menjadi “hari yang buruk bagi Iran” jika Teheran gagal mencapai kesepakatan.
Membangun Kekuatan dan Memperluas Ancaman
Pengiriman USS Gerald R. Ford ini melengkapi kapal induk USS Abraham Lincoln serta sejumlah kapal perusak berpeluru kendali, jet tempur, dan pesawat pengintai yang telah dikerahkan dalam beberapa pekan terakhir. Ini adalah bagian dari akumulasi kekuatan militer besar-besaran di kawasan tersebut.
Lebih lanjut, Trump kemudian menyatakan bahwa perubahan pemerintahan di Iran akan menjadi “hal terbaik yang bisa terjadi.” Ia mengkritik keras kepemimpinan Teheran selama 47 tahun terakhir, dengan tuduhan tersirat terkait penumpasan protes anti-pemerintah baru-baru ini.
Konteks Negosiasi Pasca-Konflik Juni
Pengumuman ini terjadi hanya beberapa hari setelah Trump bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Washington. Netanyahu menyuarakan dukungannya untuk kesepakatan yang baik, namun menyatakan keberatan jika perundingan tidak membatasi program rudal balistik Iran permintaan yang secara terbuka ditolak Teheran.
Pembicaraan tidak langsung AS-Iran di Oman pekan lalu merupakan yang pertama sejak perang 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni 2025. Dalam konflik tersebut, AS bergabung secara singkat dengan menyerang tiga fasilitas nuklir Iran dalam operasi militer yang dijuluki “Midnight Hammer”. Trump saat itu mengklaim serangan AS telah “menghancurkan total” fasilitas nuklir Iran.
Kebuntuan Inspeksi dan Risiko Eskalasi Regional
Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, mengungkapkan dalam Konferensi Keamanan Munich bahwa meskipun para inspektur telah kembali ke Iran pasca-perang, mereka belum dapat mengunjungi situs-situs yang menjadi sasaran serangan. Grossi menggambarkan dialog dengan Iran sebagai sesuatu yang “tidak sempurna, rumit, dan sangat sulit.”
Sementara itu, negara-negara Arab Teluk telah memperingatkan bahwa setiap serangan dapat meningkat menjadi konflik regional lainnya, di kawasan yang masih terguncang oleh perang genosida Israel di Gaza.
Dilansir dari : Al Jazeera.com





