Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Iran sedang “berbicara dengan serius” kepada Washington, sambil mengulangi pernyataannya tentang armada militer AS yang bergerak mendekati wilayah Iran. Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperingatkan bahwa perang tidak akan menguntungkan kedua belah pihak maupun kawasan Timur Tengah, seraya menuduh AS dan sekutunya berusaha memecah belah Iran.
Komunikasi dan ancaman yang saling bersilangan ini terjadi di tengah upaya diplomatik intensif untuk meredakan ketegangan, termasuk kunjungan pejabat Qatar ke Teheran.
Pernyataan Trump: Dialog Serius di Tengah Ancaman Militer
Dalam wawancara dengan Reuters yang diterbitkan pada hari Minggu (1/2), Presiden Trump mengakui adanya komunikasi dengan Iran. “Saya tidak tahu apakah negosiasi dengan Teheran akan menghasilkan kesepakatan, tetapi orang-orang Iran sedang berbicara kepada Amerika Serikat dengan serius,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Washington berharap Iran dapat “menegosiasikan sesuatu yang dapat diterima”. Trump menegaskan, “Jika kita dapat merundingkan kesepakatan yang meyakinkan yang mengarah pada Iran tanpa senjata nuklir, maka hal itu harus dilakukan.”
Namun, pernyataan mengenai diplomasi tersebut disertai dengan penguatan retorika militer. Trump kembali menegaskan bahwa AS memiliki “kapal-kapal besar dan kuat yang berlayar menuju Iran.” Sehari sebelumnya, dalam wawancara dengan Fox News, ia mengatakan bahwa Teheran “sedang berbicara dengan kita, dan kita akan lihat apakah kita bisa melakukan sesuatu, jika tidak, kita akan lihat apa yang terjadi.” Ia juga mengaku belum membagikan rencana serangan tertentu kepada sekutu regional AS.
Peringatan Iran: Perang Tak Menguntungkan Siapa Pun
Menanggapi ketegangan yang meningkat, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan jalan damai. Dalam percakapan telepon dengan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi pada hari Sabtu (31/1), Pezeshkian menyatakan bahwa Teheran “tidak pernah dan dalam keadaan apa pun akan mencari perang, dan yakin bahwa perang tidak menguntungkan Iran, Amerika Serikat, atau kawasan,” menurut pernyataan dari kepresidenan Iran.
Namun, dalam pidato terpisah, Pezeshkian melancarkan tuduhan keras. Ia menuduh Presiden AS Donald Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan negara-negara Eropa berusaha memicu perpecahan di Iran dengan memberikan dukungan dan menghasut para pengunjuk rasa. Tujuan dari upaya-upaya ini, katanya, adalah untuk “membagi negara dan menyalakan konflik serta kebencian di antara warga.”
Pezeshkian membedakan antara “pengunjuk rasa biasa” yang menurutnya tidak menggunakan senjata, dengan elemen lain yang mungkin melakukan kekerasan. Ia menyerukan dialog untuk menyelesaikan masalah warga.
Upaya Diplomasi dari Qatar dan Posisi Iran
Di tengah atmosfer yang tegang, upaya diplomasi terus berjalan. Pada hari Sabtu (31/1), Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengunjungi Teheran dan bertemu dengan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani.
Kementerian Luar Negeri Qatar menyatakan bahwa pertemuan tersebut membahas upaya berkelanjutan untuk meredakan ketegangan di kawasan, dan Doha mendukung semua upaya untuk mencari solusi damai.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian, yang berada di Turki pada hari Jumat (30/1), menegaskan bahwa Teheran siap untuk negosiasi nuklir “jika adil dan setara” dan “atas dasar kesetaraan.” Namun, ia dengan tegas menyatakan bahwa “kapabilitas rudal dan pertahanan Iran tidak akan menjadi subjek negosiasi.”
Peringatan Militer dan Insiden yang Meningkatkan Ketegangan
Bersamaan dengan jalur diplomasi, peringatan militer terus bergema. Komandan Angkatan Darat Iran, Amir Hatami, kembali memperingatkan AS dan Israel agar tidak melancarkan serangan apa pun, menegaskan bahwa pasukannya siaga menghadapi penumpukan militer AS di Teluk.
Ketegangan juga dirasakan di dalam negeri Iran. Sebuah ledakan terjadi di sebuah bangunan di Kota Bandar Abbas, pelabuhan di selatan Iran, pada hari Sabtu (31/1). Pihak berwenang setempat kemudian menyatakan bahwa ledakan tersebut disebabkan oleh kebocoran gas, yang menewaskan seorang anak perempuan dan melukai 14 orang. Media pemerintah Iran dengan cepat membantah rumor yang menghubungkan ledakan itu dengan serangan atau sabotase, termasuk desas-desus tentang terbunuhnya seorang komandan angkatan laut.
Latar belakang ketegangan ini adalah serangkaian serangan militer tahun lalu, di mana AS bergabung untuk waktu singkat dalam perang 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni 2025, menyerang situs nuklir Iran. Israel juga telah melakukan serangan terhadap target militer dan pembunuhan terhadap sejumlah perwira tinggi dan ilmuwan nuklir Iran.
Sumber: www.alJazeera.net





