GAZA, 20 Maret 2026 — Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, suara takbir Idulfitri berkumandang di Jalur Gaza tanpa dibarengi deru pesawat tempur atau ledakan bom. Video dan foto yang tersebar luas di media sosial menunjukkan pemandangan yang mengharukan: warga Palestina melaksanakan salat Id di antara puing-puing masjid yang hancur dan di tengah reruntuhan yang ditinggalkan oleh pemboman Israel di berbagai kota dan wilayah di Gaza.
Sebuah unggahan dari akun jurnalis syahid Anas al-Sharif menulis: “Meskipun penuh rasa sakit, luka, dan kehancuran total yang melanda Kamp Jabalia, warga kamp melaksanakan salat Idulfitri di lapangannya, bertekad untuk tetap tinggal di Gaza utara meskipun tidak ada sarana kehidupan yang memadai.”
Salat di Atas Puing dan Semangat Bertahan
Video lain memperlihatkan para pengungsi Palestina melaksanakan salat Idulfitri pertama setelah dua tahun genosida, di atas reruntuhan masjid yang hancur dan di lapangan terbuka di Kota Khan Younis, Gaza selatan.
Dalam sebuah adegan yang mengharukan, seorang wanita terdengar melantunkan takbir Id sambil mengenang saudara-saudaranya yang gugur sebagai syuhada, saat ia berpartisipasi dalam salat Id di Lapangan Ard al-Saraya, Kota Gaza.
Video lainnya menunjukkan sekelompok anak-anak merayakan Id dengan sukacita sederhana nan polos, meskipun jejak-jejak perang masih terlihat jelas di sekitar mereka.
Harapan Baru untuk Anak-anak Gaza
Seorang blogger Gaza membagikan foto pakaian baru putrinya yang masih kecil, dengan keterangan yang menyentuh hati: “Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, anak kecilku, Omar, tidur dengan pakaian Id di sisinya. Untuk pertama kalinya, dia akan merayakan Id tanpa rasa takut, tanpa kelaparan, tanpa rasa sakit. Untuk pertama kalinya setelah lebih dari dua tahun, takbir Id dikumandangkan di Gaza tanpa suara perang.”
Perayaan Idulfitri tahun ini menjadi momen bersejarah bagi warga Gaza, yang telah lama merindukan ketenangan di tengah konflik berkepanjangan. Meskipun kehancuran masih terlihat di mana-mana, semangat untuk tetap bertahan dan merayakan kemenangan setelah kesabaran panjang tampak jelas dari wajah-wajah mereka yang melaksanakan salat di tengah puing-puing.
Sumber: Al Jazeera





