GAZA, 1 Februari 2026 — Seorang warga Palestina tewas dan dua lainnya terluka dalam serangan Israel yang menyasar kerumunan sipil di kawasan Wadi Gaza, Jalur Gaza tengah, pada Minggu pagi (1/2). Insiden ini merupakan bagian dari serangkaian pelanggaran harian Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata yang telah berlaku sejak 10 Oktober 2025.
Menurut sumber medis di Rumah Sakit Al-Aqsa Martyrs di Gaza tengah yang dikutip Anadolu, serangan tersebut menyebabkan satu orang meninggal dan dua orang terluka. Saksi mata melaporkan bahwa sebuah drone Israel menembakkan setidaknya satu rudal ke arah kerumunan warga sipil di utara Wadi Gaza. Kawasan itu sebelumnya telah dievakuasi atas perintah tentara Israel sesuai dengan kesepakatan gencatan senjata.
Insiden Terpisah dan Konteks Eskalasi
Pada insiden terpisah di hari yang sama, para saksi menyebutkan bahwa tentara Israel melakukan operasi pembongkaran di area-area yang berada dalam wilayah pengawasan dan kontrolnya di timur laut Kota Gaza. Operasi ini disertai dengan tembakan berat dari kendaraan militer dan crane. Selain itu, kendaraan militer Israel juga dilaporkan membuka tembakan di barat Kota Rafah dan timur kamp pengungsi Bureij, sementara angkatan laut Israel menembak ke arah laut di lepas pantai Gaza utara.
Serangan hari Minggu ini terjadi setelah dua hari eskalasi mematikan di mana Israel disebut telah menewaskan 37 warga Palestina dalam serangan-serangan yang menyasar tempat penampungan, tenda-tenda pengungsi, sebuah pusat kepolisian, dan apartemen-apartemen hunian.
Statistik Korban dan Dampak Perang
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza yang dikutip dalam laporan, tentara Israel telah menewaskan sekitar 509 warga Palestina dan melukai 1.405 lainnya sejak 11 Oktober 2025. Gencatan senjata Oktober 2025 sendiri mengakhiri perang selama dua tahun yang dilancarkan Israel, yang menurut catatan telah menewaskan hampir 71.800 warga Palestina dan melukai lebih dari 171.400 orang.
Perang tersebut juga menghancurkan sekitar 90% infrastruktur sipil di Gaza. PBB memperkirakan biaya rekonstruksi untuk membangun kembali wilayah itu mencapai sekitar 70 miliar dolar AS.
Dilansir dari : www.aa.com





