TEPI BARAT, 19 Februari 2026 — Seorang pemuda Palestina tewas dan sejumlah lainnya terluka dalam serangan brutal yang dilakukan pemukim Israel di Desa Mukhmas, timur laut Yerusalem yang diduduki, pada Rabu sore (18/2). Peristiwa ini memicu kecaman luas dan desakan internasional, khususnya dari Yordania, untuk segera menghentikan eskalasi kekerasan di Tepi Barat.
Kementerian Kesehatan Palestina mengonfirmasi bahwa Nasrallah Muhammad Jamal Abu Siyam (19 tahun) meninggal dunia akibat luka-luka yang dideritanya. Ia adalah satu dari lima warga yang terluka dalam serangan itu, tiga di antaranya tertembak peluru tajam. Serangan tersebut juga disertai aksi pencurian puluhan ekor domba milik petani Palestina oleh para pemukim, yang semuanya dilakukan di bawah perlindungan pasukan pendudukan Israel.
Palang Merah Palestina melaporkan bahwa timnya segera mengevakuasi para korban ke rumah sakit, dengan kondisi salah satu korban awalnya dinyatakan kritis. Dengan gugurnya Abu Siyam, jumlah warga Palestina yang tewas di tangan pemukim sejak 7 Oktober 2023 kini menjadi 37 orang, menurut data dari Badan Perlawanan Tembok dan Permukiman.
Kekerasan Terorganisasi dan Respons Pimpinan Palestina
Kepala Badan Perlawanan Tembok dan Permukiman, Muayad Shaban, mengecam serangan tersebut sebagai “eskalasi berbahaya dalam terorisme pemukim yang terorganisasi.” Ia menegaskan adanya “kemitraan penuh antara pemukim dan pasukan pendudukan” dalam aksi-aksi kekerasan ini, dan kembali menyerukan perlunya perlindungan internasional bagi rakyat Palestina.
Desa Mukhmas dan perkemahan Badui “Khallet al-Sidra” di dekatnya telah berulang kali menjadi sasaran serangan, termasuk penembakan, perusakan rumah dan properti, serta pencurian ternak.
Dalam insiden terpisah, dua pemuda Palestina juga terluka oleh tembakan pasukan Israel saat mereka menggerebek Desa Arraba, selatan Jenin. Salah satu korban dilaporkan dalam kondisi kritis.
Desakan Yordania dan Kekhawatiran Internasional
Di tingkat regional, Raja Yordania Abdullah II menyerukan “tindakan internasional segera” untuk menghentikan eskalasi di Tepi Barat. Dalam pertemuannya dengan Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier di Amman, ia kembali menegaskan penolakan tegas terhadap keputusan Israel yang bertujuan menguasai tanah dan memperluas permukiman.
Raja Abdullah juga memperingatkan bahaya dari terus berlanjutnya pelanggaran terhadap situs-situs suci Islam dan Kristen di Yerusalem, yang melanggar status hukum dan historis yang ada, terutama di tengah pembatasan akses ke Masjid Al-Aqsa selama bulan Ramadan.
Kekerasan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan setelah pemerintah Israel baru-baru ini mengesahkan langkah-langkah yang memungkinkan pendaftaran tanah di Tepi Barat sebagai “milik negara” — sebuah langkah yang dikritik oleh 85 negara di PBB yang menyerukan pembatalannya. Komunitas internasional terus mendesak diakhirinya tindakan sepihak yang menggerogoti prospek perdamaian dan solusi dua negara.
Sumber: Al Jazeera





